Blog buat belajar

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Ekosistem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekosistem. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2015

Ancaman dan Upaya Perlindungan Ekosistem Estuaria

Ancaman terhaadap Ekosistem Estuaria
Estuaria merupakan wilayah yang sangat dinamis (dynamics area), rentan terhadap perubahan dan kerusakan lingkungan baik fisik maupun biologi (ekosistem) dari dampak aktifitas manusia di darat ataupun pemanfaatan sumberdaya perairan laut secara berlebihan (over-exploited). Beberapa hal yang dimungkinkan menjadi sumber kerusakan dan perubahan fisik lingkungan wilayah estuaria antara lain:
  • Semakin meningkatnya penebangan hutan dan jeleknya pengelolaan lahan di darat, dapat meningkatkan sedimentasi di wilayah estuaria. Laju sedimentasi di wilayah pesisir yang melalui aliran sungai bisa dijadikan sebagai salah satu indikator kecepatan proses kerusakan pada wilayah lahan atas, sehingga dapat menggambarkan kondisi pada wilayah lahan atas. Sedimen yang tersuspensi masuk perairan pantai dapat membahayakan biota laut, karena dapat menutupi tubuh biota laut terutama bentos yang hidup di dasar perairan seperti rumput laut, terumbu karang dan organisme lainnya. Meningkatnya kekeruhan akan menghalangi penetrasi cahaya yang digunakan oleh orgnisme untuk pemapasan atau berfotosintesis. Banyak-nya sedimen yang akhirnya terhenti atau terendapkan di muara sungai dapat mengubah luas wilayah pesisir secara keseluruhan, seperti terjadinya perubahan garis pantai, berubahnya mulut muara sungai, terbentuknya delta baru atau tanah timbul, menurunnya kualitas perairan dan biota-biota di muara sungai
  • Pola pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tidak memperhatikan daya dukung produktifitas pada suatu kawasan estuaria, seperti sumberdaya perikanan, sehingga kawasan muara sungai tersebut terus mendapat tekanan dan menyebabkan menurunnya produktifitasnya
  • Meningkatnya pembangunan di lahan atas (up-land) menjadi kawasan Industri, pemukiman, pertanian menjadikan sumber limbah yang bersama-sama dengan aliran sungai akan memperburuk kondisi wilayah estuaria. Lebih dan 80% bahan pencemar yang ditemukan di wilayah pesisir dan laut berasal dari kegiatan manusia di darat UNEP (1990).
  • Kegiatan-kegiatan kontruksi yang berkaitan dengan usaha pertanian, seperti pembuatan saluran irigasi, drainase dan penebangan hutan akan mengganggu pola aliran alami daerah tersebut. Gangguan ini meliputi aspek kualitas, volume, dan debit air. Pengurangan debit air yang di alirkan bagi irigasi, dapat mengubah salinitas dan pola sirkulasi air di daerah estuaria danmenyebabkan jangkauan intrusi garam semakin jauh ke hulu sungai. Hal ini akan mengakibatkan perubahan pada sebagian ekosistem perairan pantai itu sendiri, juga pada ekosistem daratan di sekitar perairan tersebut sehingga berakibat intrusi air laut pada air tanah.

Upaya Perlindungan Ekosistem Estuari

Banyak elemen masyarakat yang sekarang masih kurang peka akan kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya ekosistem pesisir, hal ini apabila tidak di tanggapi secara serius akan menimbulkan dampak yang cukup berbahaya ke depannya. Kita tidak mungkin juga hanya bisa menikmati keindahan suatu tempat tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya bagi generasi penerus. Berikut merupakan tahapan yang dapat digunakan untuk perlindungan maupun pelestarian ekosistem pesisir, diantaranya adalah :

  • Restorasi, dimaksudkan sebagai upaya untuk menata kembali kawasan pesisir sekaligus melakukan aktivitas penghijuan. Untuk melakukan restorasi perlu memperhatikan pemahaman pola hidrologi, perubahan arus laut, tipe tanah.
  • Reorientasi, dimaksudkan sebagai sebuah perencanaan pembangunan yang berparadigma berkelanjutan sekaligus berwawasan lingkungan. Sehingga motif ekonomi yang cenderung merusak akan mampu diminimalisasi. 
  • Responsivitas, dimaksudkan sebagai sebuah upaya dari pemerintah yang peka dan tanggap terhadap problematika kerusakan ekosistem pesisir. Hal ini dapat ditempuh melalui gerakan kesadaran pendidikan dini, maupun advokasi dan riset dengan berbagai lintas disiplin keilmuan. 
  • Rehabilitasi, gerakan rehabilitasi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengembalikan peran ekosistem pesisir sebagai penyangga kehidupan biota laut. Salah satu wujud kongkrit pelaksanaan rehabilitasi yaitu dengan menjadikan kawasan pesisir sebagai area konservasi yang berbasis pada pendidikan (riset) dan ekowisata.
  • Responsibility, dimaksudkan sebagai upaya untuk menggalang kesadaran bersama sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat.
  • Regulasi, dalam hal ini setiap daerah pasti mempunyai Perda yang telah diatur secara jelas dan gambling. Maka dari itu, perlu kesadaran dan kewajiban untuk memenuhi perda yang telah ada dan telah dibuat. Ini bisa dijadikan sebuah punishment apabila tidak dijalankan secara serius. Punishment harus dijalankan guna membentuk sikap yang sadar akan Perda yang telah diatur demi keberlangsungan ekosistem pesisir di masa depan.

Fungsi Ekologis Estuaria

Secara umum estuaria mempunyai peranan ekologis penting diantaranya sebagai berikut:
  1. Sebagai sumber zat hara dan bahan organik yang diangkut lewat sirkulasi pasang surut (tidal circulation). 
  2. Penyedia habitat bagi sejumlah spesies hewan yang bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makan. 
  3. Sebagai tempat untuk bereproduksi dan atau tempat tumbuh besar (nursery ground) terutama bagi sejumlah spesies udang dan ikan.

Sedangkan secara umum estuaria dimanfaatkan oleh manusia sebagai berikut:
  1. Sebagai tempat pemukiman. 
  2. Sebagai tempat penangkapan dan budidaya sumberdaya ikan; 
  3. Sebagai jalur transportasi
  4. Sebagai pelabuhan dan kawasan industri.
Demikian artikel mengenai Ancaman dan Upaya Perlindungan Ekosistem Estuaria, semoga bermanfaat.
Share:

Rantai Makanan Pada Ekosistem Estuaria

Rantai makanan di estuari tergantung pada pasokan energi dari sinar matahari dan transportasi senyawa organik ke dalam estuari dari sungai dan dari arus pasang surut air laut. Di dalam estuari, tumbuhan atau produser primer mengubah pasokan itu menjadi senyawa organik tumbuhan. Tumbuhan itu kemudian dimakan oleh hewan pemakan tumbuhan (herbivor) atau konsumer pertama, yang seterusnya konsumer pertama itu dimakan oleh karnivor atau konsumer kedua, dan seterusnya sampai ke konsumer tingkat akhir.
Setiap tingkat dalam rantai makanan disebut dengan tingkat trofik, produser adalah trofik tingkat pertama.

a) Produser primer di estuari
  • Di dalam ekosistem estuari dapat dijumpai berbagai jenis produser primer. Pada paparan pasir atau lumpur, dapat dijumpai lamun (Enhalus acoroides) yang merupakan tumbuhan berbunga, dan beberapa jenis algae, antara lain algae berfilamen seperti Enteromorpha sp., dan Padina sp. Di dalam kolom air estuari dijumpai fitoplankton, seperti diatom atau dinoflagellata. Produktivitas primer jenis-jenis tumbuhan tersebut sudah tentu tergantung pada sinar matahari dan suhu, serta juga dipengaruhi oleh adanya nutrisi, terutama nitrogen dan fosfat. Begitu tingginya tingkat produktivitas primer di estuari disbanding dengan di laut ini terutama disebabkan oleh tingginya tingkat nutrisi di estuari. Nutrisi ini sangat banyak terdapat di perairan estuari, baik yang datang dari laut, sungai, atau daratan di sekitar estuari. Di dalam estuari, nutrisi itu digunakan oleh tumbuhan. Tumbuhan yang mati kemudian didaur ulang oleh bakteri pembusuk atau decomposer menjadi nutrisi kembali untuk dimanfaatkan lagi oleh tumbuhan. Tentang peran produser primer di dalam ekosistem estuari ini, detritus juga memegang peranan penting. Detritus yang terdiri dari sisa–sisa pembusukan tumbuhan produser primer dan mikroba, mempunyai peran penting dalam menjaga kestabilan ekosistem estuari. Keberadaan detritus menjamin suplai makanan sepanjang tahun dan diabsorbsinya kembali nutrisi yang telah larut.
b) Konsumer primer (herbivor dan detritivor)
  • Estuari kaya akan sumber makanan bagi konsumer primer dari rantai makanan. Sumber makanan utama diperoleh dari besarnya jumlah detritus yang melimpah di dalam kolom air dan di dasar estuari. Sebagian besar hewan konsumer primer terdapat di dasar estuari, seperti teritip (Krustasea, Cirripedia), kerang dan keong (Bivalvia dan Gastropoda)yang berada di permukaan dasar estuari, ataupun hewan lainnya yang hidup di dalam lumpur, seperti cacing. Zooplankton biasanya berada di kolom air. Akan tetapi, adanya arus pasang surut dan aliran sungai yang masuk ke estuari ditambah lagi dengan keterbatasan yang ditimbulkan dari kekeruhan, membuat zooplankton mempunyai peran kecil dalam rantai makanan estuari dibanding dengan perannya di laut. Makanan zooplankton dan bentos kebanyakan berada dalam bentuk partikel organik halus, apakah itu berupa fitoplankton hidup atau macam-macam fragmen hasil pembusukan yang menjadi detritus.
          1. Bentos yang hidup di estuari
              Bentos dalam estuari dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

              a. Yang hidup di permukaan lumpur
                 Contoh: Perna viridis (kerang hijau) dan siput Strombus sp. Strombus adalah karnivorus
                 (pemakan jenis siput yang lebih kecil) di permukaan paparan lumpur estuari, hidupnya
                 merayap, sedangkan kerang hijau, Perna viridis, hidup menempel di permukaan dan
                 mendapatkan makanannya dengan jalan menyaring partikel-partikel organik yang ada
                 dalam kolom air dan terbawa oleh arus.
             b. Yang hidup di dalam lumpur
                  Contoh: cacing Marphysa sp. dan Branchimaldane sp. Cacing ini memakan benda-benda
                  organik (detritus), diatom yang terdapat di dasar, atau benda organik yang tersuspensi
                  pada waktu air pasang dan surut Cacing Marphysa terutama terdapat di dasar perairan
                  dengan sedimen tidak lebih kecil dari 80 ųm. Biomassa cacing ini tergantung dari banyak
                  sedikitnya senyawa organik di dalam lumpur.

          2. Krustacea

              Berbagai macam jenis krustasea ditemukan dalam habitat estuari mulai dari yang besar
              sampai yang kecil. Komponen utama dari krustasea yang hidup di estuari adalah amfipod
               (Amphipoda) yang hidup di dalam lumpur dekat permukaan. Amfipod membuat liang yang
               khas berbentuk U. Binatang ini memakan berbagai detritus organik dan keluar dari liang
               untuk mencari fragmen detritus di sekitarnya. Selain Amphipoda, krustasea lain yang biasa
               ditemukan adalah kelompok kepiting (Brachyura), kelomang (Anomura), dan udang-
               udangan (Macrura).

           3. Meiofauna

               Meiofauna adalah hewan bentik bersel banyak (multiseluler) yang mempunyai ukuran
               tubuh antara 32ųm-1000ųm. Mereka hidup di antara rongga-rongga butiran pasir sehingga
               tidak pernah membuat liang. Seluruh siklus hidupnya tidak pernah mengalami fase
               planktonik sehingga fase larva juga hanya terjadi di lingkungan bentik. Keberadaan
               meiofauna dapat dijumpai di perairan pasang surut sampai dengan dasar perairan laut
               dalam. Termasuk meiofauna adalah hewan yang dapat melewati lubang saringan berukuran
               0.5 mm. Sebagai contoh adalah Copepoda harpacticoida yang hidup di dasar perairan.

b) Konsumer sekunder 

      1. Ikan
  • Berbagai jenis ikan ditemukan di perairan estuari. Ikan-ikan ini ada yang menetap, ada yang datang untuk mencari makan dan bertumbuh besar, atau untuk bertelur. Ikan-ikan ini memakan biota yang lebih kecil (pemangsa), memakan tumbuhan (herbivor), atau menyaring busukan organik (detritus) dengan cara memasukkan lumpur ke dalam mulutnya lalu memuntahkannya kembali setelah menyaring fragmen-fragmen organiknya seperti yang dilakukan oleh ikan-ikan Belanak (Mugilidae)

      2. Avertebrata
  • Berbagai jenis hewan avertebrata ditemukan menghuni perairan estuari. Sebagaimana halnya dengan ikan, avertebrata yang ditemukan di perairan estuari sebagian merupakan penghuni tetap, sebagian lagi datang untuk mencari makan, membesar, atau bertelur. Salah satu contoh adalah udang satang (Macrobrachium sp.) yang datang ke perairan estuari dari hulu untuk bertelur. Avertebrata lainnya adalah larva udang penaeid yang bergerak dari laut menuju perairan estuaria untuk membesar
      3. Aves
  • Burung-burung laut yang datang mencari makan di perairan estuari sebagian adalah burung bermigrasi. Burung bermigrasi ini mengunjungi perairan estuari tropik selama musim dingin di tempat mereka tinggal untuk bertelur. Jumlah hewan dan tumbuhan yang hidup di estuari lebih kecil dari yang hidup di laut atau di air tawar. Berkurangnya jumlah jenis hewan dan tumbuhan itu dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kadar garam dan substrat. Perbedaan yang terjadi ditunjukkan dengan berkurangnya keanekaragaman jenis, tetapi jumlah individu tiap jenis itu dapat sangat banyak.


Share:

Adaptasi Organisme Ekosistem Estuaria

Adaptasi Organisme Ekosistem Estuaria| Variasi sifat habitat terutama salinitas membuat estuaria menjadi habitat yang kerasdan sangat menekan bagi kehidupan organisme. Organisme untuk dapat hidup dan berhasi lmembentuk koloni di daerah ini organisme harus mempunyai kemampuan untuk beradaptasi secara khusus.
a) Adaptasi Morfologis
  • Organisme yang mendiami substrat berlumpur sering kali beradaptasi dengan membentuk rumbai-rumbai halus atau rambut atau setae yang menjaga jalan masuk keruang pernapasan agar permukaan ruang pernapasan tidak tersumbat oleh partikel lumpur. Organisme yang memiliki kemampuan adaptasi seperti ini adalah kepiting estuaria, dan beberapa anggota dari Gastropoda. Adaptasi yang lain adalah ukuran tubuh. Organisme estuaria umumnya mempunyai ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan dengan kerabatnya yang hidup dilaut. Contohnya adalah kepiting (Ucha) yang memiliki ukuran kecil, hal ini terjadi karena sebagian besar energi yang dimilikinya dipergunakan untuk beradaptasi menyesuaikan dengan kadar garam lingkungan.
b) Adaptasi Fisiologis
  • Adaptasi yang diperlukan untuk kelangsungan hidup organisme estuaria adalah berhubungan dengan keseimbangan ion cairan tubuh menghadapi fluktuasi salinitas eksternal. Kemampuan osmoregulasi sangat diperlukan untuk dapat bertahan hidup.Organisme yang memiliki kemampuan osmoregulasi dengan baik disebut osmoregulator, contohnya Copepoda, Cacing Polychaeta dan Mollusca. Organisme yang memiliki kemampuan osmoregulasi rendah disebut osmokonformer. Kemampuan mengatur osmosis menurut beberapa ahli sangat dipengaruhi olehsuhu. Di daerah tropic dengan suhu air lebih tinggi dan perbedaan suhu antara air tawar dan air laut kecil, biasanya dihuni oleh species estuaria lebih banyak, dan species lautan yang stenohalin dapat masuk lebih jauh ke hulu.
c) Adaptasi Tingkah laku
  • Salah satu bentuk adaptasi tingkahl aku yang dilakukan oleh organisme estuari adalah membuat lubang ke dalam Lumpur. Ada dua keuntungan yang didapatkan dariorganisme yang beradaptasi seperti ini. Pertama, adalah dalam pengaturan osmosis. Keberadaan di dalam lubang berarti mempunyai kesempatan untuk berhubungan dengan air interstitial yang mempunyai variasi salinitas dan suhu lebih kecil dari padaair di atasnya. Kedua, membenamkan diri ke dalam substrat berarti lebih kecil kemungkinan organisme ini dimakan oleh pemangsa yang hidup di permukaan substratatau di kolam air. Adaptasi tingkah laku lainnya adalah dengan cara bergerak ke hulu atau ke hilir. Tingkah laku ini akan menjaga organisme tetap berada pada daerah dengan kisaran toleransinya. Contohnya beberapa species kepiting seperti Rajungan (Calinectessapidus), ikan belanak (Mugil mugil), Ikan bandeng dan lain-lain
Demikian artikel mengenai Adaptasi Organisme Ekosistem Estuaria, semoga bermanfaat.
Share:

Biota Ekosistem Estuaria

Biota Ekosistem Estuaria| Biota Ekosistem Estiaria pada artikel ini akan diklasifikasikan ke dalam Fauna dan Flora
a) Fauna

Ada tiga komponen fauna utam penghuni estuaria yaitu fauna laut, tawar dan fauna khas estuaria itu sendiri. Dari ketiganya, fauna laut merupakan yang terbesar dalam jumlah species dan individunya, karena sebagian besar fauna laut bersifat eurihalin sehingga mampu menembus dan masuk estuaria sampai batas salinitas rendah. Bahkan beberapa species tertentu seperti Anguila sp dapat menembus sampai salinitas 3‰.Fauna khas air payau atau estuaria terdiri dari species yang terdapat pada kisaran salinitas antara 5‰ - 30‰, tetapi tidak ditemukan di air tawar maupun yang sepenuhnya air laut, contohnya antara lain adalah tiram (Crassostrea ostrea), siput kecil (Hydrobia), berbagai tiram dan udang.

Ada beberapa kecenderungan beberapa genera estuarin penyebarannya kearah laut, bukan masalah toleransi fisiologis tetapi cenderung kearah interaksi biologis (pemangsaan). Komponen fauna terakhir adalah fauna air tawar. Fauna air tawar umumnya bersifat stenohalin sehingga tidak mampu menghuni estuaria dengan salinitas di atas 5‰. Di samping fauna di atas, juga terdapat fauna yang hanya menghabiskan sebagian daur hidupnya di estuaria. Contohnya stadia juvenil beberapa jenis udang Penaidae. Fauna estuaria termasuk juga yang hanya masuk daerah ini sekedar untuk mencari makan termasuk beberapa jenis ikan dan burung.

Keruhnya perairan estuaria menyebabkan hanya tumbuhan mencuat yang dapat tumbuh mendominasi. Rendahnya produktifitas primer di kolam air, sedikitnya herbivora dan terdapatnya sejumlah besar detritus menunjukkan bahwa rantai makanan pada ekosistem estuaria merupakan rantai makanan detritus. 

Karakteristik ( ciri – ciri ) ekosistem estuaria adalah sebagai berikut :
  1. Keterlindungan. Estuaria merupakan perairan semi tertutup sehingga biota akan terlindung dari gelombang laut yang memungkinkan tumbuh mengakar di dasar estuaria dan memungkinkan larva kerang-kerangan menetap di dasar perairan.
  2. Kedalaman. Kedalaman estuaria relatif dangkal sehingga memungkinkan cahaya matahari mencapai dasar perairan dan tumbuhan akuatik dapat berkembang di seluruh dasar perairan, karena dangkal memungkinkan penggelontoran (flushing) dengan lebih baik dan cepat serta menangkal masuknya predator dari laut terbuka (tidak suka perairan dangkal).
  3. Salinitas air. Air tawar menurunkan salinitas estuaria dan mendukung biota yang padat.
  4. Sirkulasi air. Perpaduan antara air tawar dari daratan, pasang surut dan salinitas menciptakan suatu sistem gerakan dan transport air yang bermanfaat bagi biota yang hidup tersuspensi dalam air, yaitu plankton.
  5. Pasang. Energi pasang yang terjadi di estuaria merupakan tenaga penggerak yang penting, antara lain mengangkut zat hara dan plangton serta mengencerkan dan meggelontorkan limbah.
  6. Penyimpanan dan pendauran zat hara. Kemampuan menyimpan energi daun pohon mangrove, lamun serta alga mengkonversi zat hara dan menyimpanya sebagai bahan organik untuk nantinya dimanfaatkan oleh organisme hewani.

b) Flora

Hampir semua bagian estuaria terus menerus terendam dan terdiri dari substrat Lumpur halus sehingga tidak cocok melekatnya makroalga. Kekeruhan yangsangat tinggi juga menyebabkan terbatasnya daya tembus cahaya matahari ke lapisanyang dangkal sekalipun, sehingga lapisan dasar estuaria miskin tumbuhan hidup.Hanya ada beberapa jenis algae yang sering ditemukan di sebstrat dasar estuaria antaralain: Ulva, Enteromorpha, Chaetomorpha dan Cladophora, namun algae ini jugabersifat musiman. Kekruhan yang tinggi menyebabkan flora dominan yang tumbuhsebagian besar dari kelompok tumbuhan berbungan berumur panjang yangmenancapkan akar-akarnya ke dalam substrat dan membentuk komunitas khas yangdikenal sebagai Hutan Mangrove.

Demikian artikel mengenai Biota Ekosistem Estuaria , semoga bermanfaat.
Share:

Karakteristik Ekosistem Estuaria

Karakteristik Ekosistem Estuaria| Estuaria sebagai ekosistem kompleks, memiliki variasi yang sangat besar dalam banyak parameter fisik dan kimia sehingga lingkungannya menjadi sangat menekanbagi kehidupan organisme. Beberapa faktor fisik dan kimia lingkungan yang dapat menjadi faktor pembatas dalam ekosistem estuaria antara lain:
1. Salinitas
  • Salinitas daerah estuaria sangat fluktuatif dan tergantung pada musim, topografi estuaria, aksi pasang air laut, dan volume air tawar. Dua musim dalamsetahun di daerah tropis seperti di Indonesia dan tipe pasang semi diurnal padasebagian besar wilayahnya (dua kali pasang dan dua kali surut) dalam waktu seharisemalam menyebabkan terjadinya fluktuasi salinitas yang periodisitasnya sangatpendek (sekitar 6 jam). Aksi pasang air laut yang besar mendorong air laut masuk cukup jauh ke hulu sungai dan sebaliknya pasang turun akan mendorong kembali isohaline ke hilir.Kondisi ini menyebabkan pada daerah yang sama di estuarin memiliki salinitas yangberbeda pada waktu yang berbeda sesuai dengan perubahan aksi pasang dan volume air tawar.
  • Faktor ke dua yang mempengaruhi salinitas di daerah estuarin adalah kekuatan coriolis, yaitu terjadinya pembelokan arah gerak melingkar akibat rotasibumi mengelilingi sumbunya. Berputarnya bumi pada porosnya mengakibatkanperubahan arah gerakan air laut yang masuk ke daratan (muara sungai),membelokannya kearah kanan dibelahan bumi sebelah utara dan kearah kiri padabelahan bumi bagian selatan. Sebagai contoh di daerah estuaria di sekitar pulau jawabagian selatan, kekuatan coriolis akan membelokkan air laut yang masuk ke estuaria kearah kiri apabila kita melihat estuaria kearah laut. Akibatnya, pada dua titik yang berlawanan dan teletak pada jarak yang sama dari laut akan memiliki salinitas yangberbeda. Faktor ke tiga yang menyebabkan fluktuasi salinitas di estuarin adalahmusim. Di Indonesia dengan dua musim yang berbeda dalam setahun akan menyebabkan perbedaan salinitas sebagai akibat berubahnya volume air tawar danberubahnya intensitas cahaya matahari. Fluktuasi salinitas selain terjadi di kolam airnya juga terjadi pada substratdasarnya. Substrat estuarin yang berupa pasir atau lumpur akan menahan air diantara partikel-partikelnya. Air interstitial ini berasal dari air yang semula terdapat di atassubstrat. Perubahan salinitas air interstitial jauh lebih lambat dibanding dengan air diatasnya, karena itu air interstitial serta Lumpur dan pasir di sekitarnya bersifat bufferterhadap air yang di atasnya.Berdasarkan beberapa pengaruh faktor fisik dan kimia lingkungan terhadap terbentuknya rezim salinitas baik secara vertikal maupun horisontal di daerah estuarindapat disimpulkan bahwa: Pada ekosistem estuarin, berdasarkan salinitasnyaterbentuk tiga zona yaitu zona air tawar, air payau dan air laut. Antara zona-zona initerdapat garis pemisah yang hanya dapat dilewati oleh organisme yang memilikikemampuan adaptasi fisiologi tertentu.
2. Suhu
  • Suhu air estuaria memiliki fluktuasi harian lebih besar dibanding dengan perairan lainnya. Hal ini disebabkan karena luas permukaan estuaria relatif lebih besarjika dibandingkan dengan volume airnya. Air estuaria cenderung lebih cepat panas danlebih cepat dingin tergantung kondisi atmosfir yang melingkupinya. Alasan lain bervariasinya suhu pada ekosistem estuarin adalah karena masuknya air tawar yang suhunya lebih depengaruhi oleh perubahan suhu musiman. Selain itu suhu di estuariajuga bervariasi secara vertikal karena pengaruh fluktuasi suhu harian. Perairan permukaan cenderung mempunyai kisaran suhu terbesar dibanding dengan perairan yang lebih dalam
3. Ombak dan Arus
  • Terjadinya ombak tergantung pada luas permukaan perairan dan juga anginya. Estuaria memiliki luas perairan terbuka yang sempit karena dibatasi oleh daratan pada ketiga sisinya, dengan demikian anginya yang bertiup untuk menciptakan ombak juga minimal. Kedalaman dan sempitnya mulut estuaria juga menjadi penghalangterbentuknya ombak yang besar atau menghilangkan pengaruh ombak laut yang masuk estuaria. Arus di estuaria cenderung disebabkan oleh aksi pasang air laut dan aliran sungai. Kecepatan arus tertinggi terjadi pada bagian tengah sungai/muara di mana hambatan gesek dengan dasar dan tepian menjadi minimal. Arus di daerah estuaria sering mengakibatkan timbulnya erosi dan biasanya diikuti oleh pengendapan di mulut muara. Adanya perbedaan kecepatan arus yang berasal dari sungai dari musim kemusim menyebabkan perbedaan kecepatan erosi dan pengendapan, sehingga banyak kasus terutama di beberapa tempat di Indonesia muara sungai bergeser dari tempat semula.
4. Substrat dasar
  • Kebanyakan estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang berasal dari proses pengendapan material baik yang dibawa oleh air laut maupun oleh air tawardari aliran sungai. Air laut dan air sungai membawa banyak partikel pasir maupunlumpur yang tersuspensi dan keduanya bertemu di estuaria. Berbagai ion yang berasaldari laut akan mengikat partikel Lumpur yang terbawa air sungai sehinggamenggumpal dan mengendap sebagai dasar substrat yang khas. Kondisi terlindungestuaria juga menyebabkan berkurangnya kecepatan air, dengan demikian partikelmengendap dan membentuk substrat dasar estuaria baik lumpur atau pasir. Pengendapan partikel juga tergantung pada arus dan ukuran partikel yangtersuspensi. Partikel yang lebih besar mengendap lebih cepat, dan arus yang kuatmempertahankan partikel tersespensi (halus), dengan demikian substrat pada daerahdengan arus yang kuat akan didominasi oleh substrat berpasir atau kerikil dan padadaerah dengan arus yang lemah substrat dasar didominasi oleh Lumpur halus. Air lautakan melepas materi lebih besar (pasir) pada mulut estuaria, sedangkan air sungaimelepas material kasar pada bagian hulu estuaria atau bahkan pada sungai itu sendiri,dengan demikian daerah tempat percampuran antara air laut dan air tawar akandidominasi oleh endapan halus (Lumpur). Di antara endapan lumpur adalah materiorganik sehingga estuaria menjadi tempat yang kaya cadangan bahan makanan bagiorganisme.
5. Kekeruhan (turbiditas)
  • Besarnya jumlah partikel tersuspensi menyebabkan pada waktu-waktu tertentu terutama pada saat musim penghujan dimana volume air tawar meningkat danmembawa material akibat erosi menyebabkan kekeruhan meningkat, demikian juga aktivitas pasang air laut. Kekeruhan biasanya minimum pada mulut muara dansemakin meningkat kea rah hulu sungai. Pengaruh ekologis kekeruhan adalahmenurunnya daya penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan yang selanjutnya menurunkan produktivitas primer akibat penurunan fotosintesis fitoplankton dantumbuhan bentik.
6. DO (Oksigen terlarut)
  • Kandungan oksigen terlarut daerah estuaria sangat tergantung beberapa faktor antara lain: suhu, salinitas, pengadukan, dan aktivitas organisme. Melihat kondisi fisikdaerah estuarin, maka secara umum wilayah ini memiliki kandungan oksigen terlarutrelative tinggi dibanding perairan lain. Pada musim kemarau yang panjang dimana penggelontoran air tawar menurun dan suhu serta salinitas relatif tinggi di permukaan perairan, menyebabkan prosespengadukan dan distribusi oksigen dari permukaan ke dasar perairan sedikit terhambatsehingga kandungan oksigen di dasar perairan menurun. Selain itu menurunnyakandungan oksigen di dasar perairan juga dapat disebabkan karena tingginya bahanorganik yang terdeposit dan tingginya populsi dan individu bakteri di dalam sedimentmenyebabkan meningkatnya pemakaian oksigen. Ukuran partikel dalam sedimentyang halus juga membatasi pertukaran air interstitial dan air yang diatasnya (kayaoksigen) sehingga oksigen sangat cepat berkurang, bahkan pada beberapa sentimeterdalam sedimen dapat bersifat anoksik.
Perpaduan antara beberapa sifat fisik estuaria mempunyai peranan yang penting terhadapa kehidupan biota estuaria. Beberapa sifat yang penting antara lain:

  1. Salinitas. Estuaria memiliki gradien salinitas yang bervariasi, terutama bergantung pada masukan air tawar dari sungai dan air laut melalui pasang surut. Variasi ini menciptakan kondisi yang menekan bagi organisme, tetapi mendukung kehidupan biota yang padat dan juga menangkal predator dari laut yang pada umumnya tidak menyukai perairan dengan salinitas rendah.
  2. Substrat. Sebagian besar estuaria didominasi oleh substrat berlumpur yang berasal dari sedimen yang dibawa melalui air tawar (sungai) dan air laut. Sebagian besar lumpur estuaria bersifat organik, sehingga substrat ini kaya akan bahan organik. Bahan organik ini menjadi cadangan makanan yang penting bagi organisme estuaria
  3. Sirkulasi air. Selang waktu mengalirnya air dari sungai ke dalam estuaria dan masuknya air laut melalui arus pasang surut menciptakan suatu gerakan dan transpor air yang bermanfaat bagi biota estuaria, khususnya plankton yang hidup tersuspensi dalam air
  4. Pasang surut. Arus pasang surut berperan sebagai pengangkut zat hara dan plankton. Disamping itu arus ini juga berperan untuk mengencerkan dan menggelontorkan limbah yang sampai si estuaria.
  5. Penyimpanan zat hara. Peranan estuaria sebagai penyimpanan zat hara sangat besar. Pohon mangrove dan lamun serta ganggang lainnya dapat mengkonversi zat hara dan menyimpannya sebagai bahan organik yang akan digunakan kemudian oleh organisme hewani.
Dengan kondisi lingkungan fisik yang bervariasi dan merupakan daerah peralihan antara darat dan laut, estuaria mempunyai pola pencampuran air laut dan air tawar yang tersendiri. Menurut (Kasim, 2005), pola pencampuran sangat dipengaruhi oleh sirkulasi air, topografi , kedalaman dan pola pasang surut karena dorongan dan volume air akan sangat berbeda khususnya yang bersumber dari air sungai. Berikut pola pencampuran antara air laut dengan air tawar:
 Pola dengan dominasi air laut (Salt wedge estuary) yang ditandai dengan desakan dari air laut pada lapisan bawah permukaan air saat terjadi pertemuan antara air sungai dan air laut. Salinitas air dari estuaria ini sangat berbeda antara lapisan atas air dengan salinitas yang lebih rendah dibanding lapisan bawah yang lebih tinggi.
  1. Pola percampuran merata antara air laut dan air sungai (well mixed estuary). Pola ini ditandai dengan pencampuran yang merata antara air laut dan air tawar sehingga tidak terbentuk stratifikasi secara vertikal, tetapi stratifikasinya dapat secara horizontal yang derajat salinitasnya akan meningkat pada daerah dekat laut.
  2. Pola dominasi air laut dan pola percampuran merata atau pola percampuran tidak merata (Partially mixed estuary). Pola ini akan sangat labil atau sangat tergantung pada desakan air sungai dan air laut. Pada pola ini terjadi percampuran air laut yang tidak merata sehingga hampir tidak terbentuk stratifikasi salinitas baik itu secara horizontal maupun secara vertikal.
  3. Pada beberapa daerah estuaria yang mempunyai topografi unik, kadang terjadi pola tersendiri yang lebih unik. Pola ini cenderung ada jika pada daerah muara sungai tersebut mempunyai topografi dengan bentukan yang menonjol membetuk semacam lekukan pada dasar estuaria. Tonjolan permukaan yang mencuat ini dapat menstagnankan lapisan air pada dasar perairan sehingga, terjadi stratifikasi salinitas secara vertikal. Pola ini menghambat turbulensi dasar yang hingga salinitas dasar perairan cenderung tetap dengan salinitas yang lebih tinggi.
Share:

Pengertian dan Klasifikasi Ekosistem Estuaria

Pengertian dan Klasifikasi Ekosistem Estuaria| Laut merupakan bagian dari ekosistem perairan yang memiliki ciri-ciri antara lain: 
bersifat continental, luas dan dalam, asin, memiliki arus dan gelombang, pasan gsurut, dan dihuni oleh organisme baik plankton, neuston maupun bentos. Ekosistem laut yang luas dan dalam menyebabkan terdinya varasi fisiko-kimiawi lingkungan yang akan menjadi faktor pembatas bagi kehidupan organisme.

Ekologi estuaria merupakan daerah atau lingkungan yang merupakan campuran antara air sungai dan air laut, sehingga mengakibatkan daerah estuaria ini mempunyai air yang bersalinitas lebih rendah daripada lautan terbuka. Meskipun demikian proses percampuran ini adalah merupakan pencampuran yang kompleks. Dimana air tawar yang mempunyai densitas lebih kecil dari air laut cenderung mengembang diatasnya. Pada daerah estuaria ini juga terdapat fluktuasi perubahan salinitas yang berlangsung sacara tetap yang berhubungan dengan gerakan air pasang. Massa air yang masuk kedalam daerah estuaria pada waktu terjadi air surut hanya bersumber dari air tawar, akibatnya salinitas air didaerah estuaria pada saat itu umumnya rendah. Pada waktu air pasang air masuk kedalam estuaria dari air laut bercampur dengan estuaria, sehingga mengakibatkan salinitas naik. Mengakibatkan organisme-organisme laut tidak dapat hidup didaerah estuaria, kebanyakan organisme-organisme laut tersebut hanya dapat bertoleransi terhadap perubahan salinitas yang kecil. Dan akibatnya mereka tidak di bisa hidup didaerah estuaria. Sebagian besar jenis flora dan fauna yang hidup didaerah estuaria tersebut adalah organisme yang telah beradaptasi dengan kondisi yang terbatas didaerah tersebut.

Akibatnya wilayah estuaria tersebut merupakan suatu tempat yang sulit untuk ditempati, daerah ini bersifat sangat produktif yang dapat mendukung sejumlah besar biota. Oleh karena itu, umumnya daerah ini dikatakan bahwa estuaria relatif hanya dapat dihuni oleh beberapa spesies saja. Pada daerah estuaria ini selain dari turun naiknya salinitas yang disebabkan oleh air pasang, juga terjadi penurusan salinitas yang bertahap ketika air dari mulut estuaria (muara sungai) bergerak ke arah sumber mata air (hulu sungai) sehingga terdapat wilayah dari flora dan fauna yang hidup di daerah ini. Sehinggan kami membuat makalah ini ntuk mengetahui lebih jauh mengenai ekosistem estuaria.

Pengertian Estuaria
Kata “estuari” dipinjam dari perkataan bahasa Inggrisestuary, dari bahasa Latinaestuarium yang berarti aliran air pasang dari laut, yang akar katanya adalah aestus, pasang surut air laut. Perdefinisi, ada banyak pengertian yang dipakai orang untuk menjelaskan estuari. Salah satu definisi yang diterima orang secara luas menyebut estuari sebagai:
”badan air pesisir yang semi-tertutup, yang terhubung bebas dengan laut terbuka, yang di dalamnya air laut nyata tercampur dan terencerkan oleh air tawar yang mengalir dari daratan.
Atau, definisi lain yang lebih melingkup, misalnya:
”badan air semi-tertutup, yang terhubung ke laut sejauh batas pasang surut atau batas intrusi garam dan menerima limpasan air tawar, namun masuknya air tawar mungkin tidak terus menerus, hubungan ke laut mungkin tertutup untuk sebagian waktu dalam setahun, sementara pengaruh pasang surut air laut mungkin dapat diabaikan.”

Estuari atau estuaria adalah badan air setengah tertutup di wilayah pesisir, dengan satu sungai atau lebih yang mengalir masuk ke dalamnya, serta terhubung bebas dengan laut terbuka. Kebanyakan muara sungai ke laut membentuk estuari; namun tidak demikian jika bermuara ke danau, waduk, atau ke sungai yang lebih besar. Estuari merupakan suatu mintakat peralihan (zona transisi) antara lingkungan sungai dengan lingkungan laut, dan dengan demikian, dipengaruhi baik oleh karakter sungai yang membentuknya (misalnya banyaknya air tawar dan sedimentasi yang dibawanya), maupun oleh karakter lautan di sisi yang lain (misalnya pasang surut, pola gelombang, kadar garam, serta arus laut). Masuknya baik air tawar maupun air laut ke estuari merupakan faktor yang meningkatkan kesuburan perairan, dan menjadikan estuari sebagai salah satu habitat alami yang paling produktif di dunia.

Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar akan menghasilakan suatu komunitas yang khas, dengan lingkungan yang bervariasi , antara lain:
  1. Tempat bertemunya arus air dengan arus pasang-surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi, pencampuran air dan ciri-ciri fisika lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya.
  2. Pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu sifat fisika lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun air laut.
  3. Perubahan yang terjadi akibat adanya pasang-surut mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya.
  4. Tingkat kadar garam didaerah estuaria tergantung pada pasang-surut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lainnya, serta topografi daerah estuaria tersebut.

Klasifikasi berdasarkan Geomorfologi

1. Lembah sungai yang tenggelam
  • Tipe estuari ini kebanyakan mulai terbentuk antara 15.000 dan 6.000 tahun yang silam, ketika tudung es mencair dan permukaan laut naik menggenangi muara-muara sungai purba. Di samping itu, proses penurunan lahan di wilayah pesisir turut menyumbang pada proses ini. Tipe ini terutama terbentuk di muara sungai-sungai yang melalui wilayah yang pesisirnya lebar; membentuk daerah estuari sempit dan relatif dangkal di arah daratan, dan melebar dan mendalam ke arah laut. Rasio lebar perairan terhadap dalamnya termasuk besar; dengan kedalaman perairan jarang-jarang melebihi 30 m (98 kaki). Salah satu contohnya adalah muara Sungai Hudson di Amerika Serikat.

2. Tipe laguna
  • Estuari tipe ini hampir terisolasi oleh karena adanya beting penghalang di arah lautnya, baik berupa pulau ataupun tanjung penghalang. Dengan demikian, laguna estuari ini hanya terhubung dengan laut terbuka melalui satu atau beberapa celah yang relatif sempit, tempat keluar masuknya air. Tipe ini biasanya terbentuk di wilayah yang pantainya landai, pada tepi benua yang secara tektonik stabil, di tepi laut pinggiran yang ombaknya tidak terlalu besar. Beting-beting penghalang itu dapat terbentuk oleh beberapa hal, misalnya:
  • • Beting pasir yang terbentuk dari pasir dasar laut yang terangkat dan diendapkan oleh gelombang laut; biasanya berupa beting memanjang sejajar dengan garis pantai.
  • • Beting lumpur sedimen yang dibawa sungai, namun tertahan oleh gelombang dan arus laut, dan diendapkan di sebelah muka muara.
  • • Beting karang yang berasal dari batu atau tanah pantai yang tererosi ketika terjadi penggenangan oleh air laut yang menaik, sehingga membentuk semacam teluk kecil; beting batu itu adalah sisa-sisa yang tidak turut tererosi.
  • • Beting tanah atau pasir yang berasal dari ujung (tanjung kecil) yang tererosi pinggirannya, namun bertambah panjang karena tambahan endapan di ujungnya akibat arus laut dan gelombang.

3. Tipe fjord
  • Estuari tipe fjord ini terbentuk di muara sungai yang berlembah dalam karena tererosi oleh aliran es (gletser). Secara khas estuari semacam ini mempunyai lembah dengan penampang serupa huruf-U, bertebing curam, dengan dasar yang berbatu-batu dan berkontur khas akibat terkikis aliran gletser. Di hulunya, estuari ini bisa jadi sangat dalam, dapat melebihi 300 m (980 kaki). Namun ujungnya dangkal karena endapan serpih batu-batuan acap membentuk gigir (semacam beting atau gosong) di bawah air. Apabila gigir ini sangat dangkal, dapat menghalangi pertukaran air (tawar dengan laut) sedemikian sehingga air sangat sedikit bertukar, dan air-air di bawah garis kedalaman gigir boleh dikatakan sangat jarang bersirkulasi, atau stagnan dalam jangka yang panjang.

4. Tipe pengaruh tektonik
  • Adalah estuari yang terbentuk karena pergerakan tanah yang disebabkan oleh aktivitas patahan tektonik, vulkanisme, atau tanah longsor. Tipe ini sangat sedikit ditemukan; salah satunya adalah estuari di Teluk San Francisco, yang terbentuk oleh pergerakan sesar San Andreas.

Klasifikasi estuaria juga dapat didasarkan pada bagaimana salinitas dibentuk.

Berdasarkan kriteria ini estuaria dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Estuaria positif (baji garam)
  • Estuaria tipe ini memiliki ciri khas gradien salinitas dipermukaan perairan cenderunglebih rendah dibanding dengan salinitas pada bagian yang lebih dalam atau di dasarperairan. Rendahnya salinitas di permukaan perairan disebabkan karena air tawar yangmemiliki berat jenis lebih ringan dibanding air laut akan bergerak di atas air laut danpercampuran baru terjadi setelah beberapa saat kemudian. Kondisi ini juga disebabkanoleh karena kecilnya proses penguapan akibat rendahnya intensitas penyinaran matahari, sehingga penguapan juga relatif rendah. Estuaria positif biasanya terdapat didaerah sub-tropis dimana penguapan relatif kecil dan volume air tawar yang masuk muara cukup besar. Estuaria tipe ini juga dapat ditemukan pada daerah tropis terutamterjadi pada saat musim penghujan dimana intensitas cahaya matahari rendah danvolume air tawar cukup besar.
2. Estuaria negatif
  • Estuaria tipe ini biasanya ditemukan di daearah dengan sumber atau masukan air tawaryang sangat minim atau rendah dan penguapan sangat tinggi yaitu di daerah iklim gurun pasir. Air laut masuk daerah muara sungai lewat permukaan , mengalami sedikit pengenceran karena bercampur dengan air tawar yang terbatas jumlahnya. Tingginya intensitas cahaya matahari menyebabkan penguapan sangat cepat menyebabkan air permukaan hipersalin.

3. Estuaria percampuran sempurna
  • Percampuran sempurna menghasilkan salinitas yang sama secara vertical dari permukaan sampai ke dasar perairan pada setiap titik. Estuaria seperti ini kondisinya sangat tergantung dari beberapa faktor antara lain: volume percampuran masa air, rezim pasang surut, musim, tipe mulut muara dan berbagai kondisi khusus lainnya.Estuaria percampuran sempurna kadang terjadi atau ditemukan di daerah tropis khususnya ketika volume dan kecepatan penggelontoran air tawar yang masuk kedaerah muara saimbang dengan pasang air laut serta ditunjang dengan mulut muarayang lebar dan dalam. Kondisi ini biasanya hanya insidental dan waktunya relatif pendek.
Klasifikasi estuaria berdasarkan Sirkulasi dan stratifikasi air:

a) Stratifikasi tinggi atau estuaria baji garam, dicirikan oleh adanya batas yang jelas antara air tawar dan air asin

b) Tercampur sebagian merupakan tipe yang paling umum dijumpai. Pada estuaria ini aliran air tawar dari sungai seimbang dengan air laut yang masuk melalui arus pasang. Pencampuran ini dapat terjadi karena adanya turbulensi yang berlangsung secara berkala oleh aksi pasang surut.

c) Tercampur sempurna. Estuaria jenis ini terjadi di lokasi-lokasi dimana arus pasang-surut sangat dominan dan kuat. Berdasarkan salinitas ( kadar garamnya ), estuaria dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
  • Oligohalin yang berkadar garam rendah (0,5% – 3 %)
  • Mesohalin yang berkadar garam sedang (3% – 17 %)
  • Polihalin yang berkadar garam tinggi, yaitu diatas 17 %
Demikian artikel mengenai Pengertian dan Klasifikasi Ekosistem Estuaria, semoga bermanfaat.
Share:

Ancaman dan Upaya Pelestarian Ekosistem Laut Dalam

Ancaman Terhadap Ekosistem Laut Dalam
1. Semakin meningkatnya penebangan hutan dan jeleknya pengelolaan lahan di darat.
  • Penebangan hutan dan pengelolaan lahan darat yang jelek dapat meningkatkan sedimentasi di wilayah estuaria. Laju sedimentasi di wilayah pesisir yang melalui aliran sungai bisa dijadikan sebagai salah satu indikator kecepatan proses kerusakan pada wilayah lahan atas, sehingga dapat menggambarkan kondisi pada wilayah lahan atas. Sedimen yang tersuspensi masuk perairan pantai dapat membahayakan biota laut, karena dapat menutupi tubuh biota laut terutama bentos yang hidup di dasar perairan seperti rumput laut, terumbu karang dan organisme lainnya. Meningkatnya kekeruhan akan menghalangi penetrasi cahaya yang digunakan oleh orgnisme untuk pemapasan atau berfotosintesis. Banyak-nya sedimen yang akhirnya terhenti atau terendapkan di muara sungai dapat mengubah luas wilayah pesisir secara keseluruhan, seperti terjadinya perubahan garis pantai, berubahnya mulut muara sungai, terbentuknya delta baru atau tanah timbul, menurunnya kualitas perairan dan biota-biota di muara sungai.
2. Terbunuhnya organisme laut dalam akibat limbah industri dan pencemaran air laut.
  • Sejumlah besar pabrik dibangun dekat sungai sehingga pemiliknya dapat membuang limbah langsung ke air. Hal ini dapat membunuh kehidupan liar yang terdapat di air tawar, berikutnya tumbuhan serta binatang - binatang laut. Bocornya tankker minyak atau kecelakaan laut dapat mengakibatkan tumpahnya minyak. Minyak ini selain meracuni makhluk hidup juga menghilangkan daya insulasi dan daya apung makhluk tersebut, sehingga mereka mati akibat hypothermia atau tenggelam. Kpal kapal tangker minyak biasanya dengan sengaja membuang muatan mereka ke laut.
  • Pestisida dari pertanian meresap ke sistem perairan. Akibatnya, zat-zat kimia beracun membunuh organisme-organisme serta berakumulasi di dalam sistem rantai makanan, sehingga mempengaruhi daya reproduksi binatang-binatang yang ada di dalamnya
3. Pola pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tidak memperhatikan daya dukung produktifitas pada suatu kawasan estuaria.
  • Pola pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tidak memperhatikan daya dukung produktifitas pada suatu kawasan estuaria seperti sumberdaya perikanan, sehingga kawasan muara sungai tersebut terus mendapat tekanan dan menyebabkan menurunnya produktifitasnya

4. Meningkatnya pembangunan di lahan atas (up-land) menjadi kawasan Industri, pemukiman, pertanian. 
  • Meningkatnya pembangunan di lahan atas (up-land) menjadi kawasan Industri, pemukiman, pertanian akan menjadikan sumber limbah yang bersama-sama dengan aliran sungai akan memperburuk kondisi wilayah estuaria. Lebih dan 80% bahan pencemar yang ditemukan di wilayah pesisir dan laut berasal dari kegiatan manusia di darat (UNEP :1990).
5. Kegiatan-kegiatan kontruksi yang berkaitan dengan usaha pertanian.
  • seperti pembuatan saluran irigasi, drainase dan penebangan hutan akan mengganggu pola aliran alami daerah tersebut. Gangguan ini meliputi aspek kualitas, volume, dan debit air. Pengurangan debit air yang di alirkan bagi irigasi, dapat mengubah salinitas dan pola sirkulasi air di daerah estuaria danmenyebabkan jangkauan intrusi garam semakin jauh ke hulu sungai. Hal ini akan mengakibatkan perubahan pada sebagian ekosistem perairan pantai itu sendiri, juga pada ekosistem daratan di sekitar perairan tersebut sehingga berakibat intrusi air laut pada air tanah.

Upaya Pelestarian Ekosistem Laut Dalam

1. Memperbaiki Daerah Lahan Atas (up-land)

  • Upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi dampak kerusakan pada ekosistem perairan wilayah estuaria yaitu dengan menata kembali sistem pengelolaan daerah atas. Khususnya penggunaan lahan pada wilayah daratan yang memiliki sungai. Jeleknya pengelolaan lahan atas sudah dapat dipastikan akan merusak ekosistem yang ada di perairan pantai. Oleh karena itu, pembangunan lahan atas harus memperhitungkan dan mempertimbangkan penggunaan lahan yang ada di wilayah pesisir. Jika penggunaan lahan wilayah pesisir sebagai lahan perikanan tangkap, budidaya atau konservasi maka penggunaan lahan atas harus bersifat konservatif. Perairan pesisir yang penggunaan lahannya sebagai lahan budidaya yang memerlukan kualitas perairan yang baik maka penggunaan lahan atas tidak diperkenankan adanya industri yang memproduksi bahan yang dapat menimbulkan pencemaran atau limbah. Limbah sebelum dibuang ke sungai harus melalui pengolahan terlebih dahulu sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan.

2. Pemanfaatan Sumberdaya Perairan Secara Optimal

  • Wilayah estuaria yang berfungsi sebagai penyedia habitat sejumlah spesies untuk berlindung dan mencari makan serta tempat reproduksi dan tumbuh, oleh karenanya di dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan khususnya di wilayah estuaria diperlukan tindakan-tindakan yang bijaksana yang berorientasi pemanfaatan secara optimal dan lestari. Pola pemanfatan sebaiknya memperhatikan daya dukung lingkungan (carrying capacity).

Share:

Potensi Laut Dalam

Rumah-rumah binatang karang yang terdapat di laut dalam akan membentuk Gosong Karang, yaitu dataran di pantai yang terdiri dari batu karang. Selain Gosong Karang ada juga Atol, yaitu pulau karang yang berbentuk cincin atau bulan sabit. Batu-batu karang yang dihasilkan oleh bentos dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, rekreasi, sebagai bahan bangunan dan lain-lain. Sedangkan zat kimia yang terkandung dalam tubuh bentos bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk permbuatan obat dan kosmetika.
Mahkluk-makhluk di lautan amat menarik perhatian para peneliti. Banyak yang tidak memiliki senjata, semacam gigi yang kuat atau panser pelindung seperti pada kura-kura. Kelihatannya makhluk hidup di lautan ini dipasrahkan begitu saja kepada pemangsa. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, banyak makhluk hidup di lautan yang kelihatannya tidak berdaya, memiliki sistem pertahanan yang cukup ampuh. Dengan memproduksi bahan kimia atau racun tertentu, makhluk hidup semacam ganggang, keong laut, spons, kerang atau terumbu karang, dapat mempertahankan diri secara efektif. Sejauh ini, para peneliti sudah meneliti lebih dari 10.000 jenis unsur bio-aktif dari biota laut. Banyak yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuat obat. Misalnya saja unsur aktif Aciclovir yang berasal dari sejenis spons, yang kini secara luas digunakan sebagai obat herpes. Aciclovir termasuk kelompok unsur aktif Nukleosid-Analog, yang bekerja menon-aktifkan polymerase DNA virus herpes. Atau unsur aktif Pseudo-pterosin yang berasal dari sejenis terumbu karang, kini unsur aktifnya secara luas digunakan sebagai krim pelindung kulit, untuk mengurangi pembengkakan akibat sengatan matahari. (http://www.kelas-mikrokontrol.com/jurnal/iptek/bagian-4/mencari-obat-di-lautan.html)

Laut dalam ternyata menyimpan kekayaan emas. Menurut para ahli, konsentrasi emas di dalam air laut adalah 0,00005 bpj (bagian per juta). Satu bpj (bagian per juta) dalam hal ini adalah 1 miligram benda padat yang larut dalam 1 liter air.

Jika konsentrasi emas di dalam air laut adalah 0,00005 bpj berarti di dalam setiap 1 liter air laut terdapat 0,00005 mg emas. Sepintas lalu kelihatannya memang sangat sedikit, namun jika kita hitung berapa emas yang terkandung di dalam 1 km3 (kilometer kubik) air laut:
Satu kilometer kubik sama dengan 1.000.000.000.000 liter atau 1012 liter, jadi di dalam satu kilometer kubik air laut terdapat:

1012 liter x 0,00005 mg :1 liter x 1 gram :1000 mg = 50.000 gram emas atau 50 kilogram emas.

Jika harga emas sekarang kira-kira adalah Rp 300.000,- per gram maka 50 kilogram emas adalah 15 milyar rupiah. Sebuah jumlah rupiah yang fantastis! Nah, itu baru nilai rupiah dari emas yang terkandung dalam 1 kilometer kubik air laut padahal di planet kita tercinta ini terdapat kira-kira 1,3 milyar kilometer kubik air laut. Begitu besarnya nilai ekonomi dari emas yang terkandung di dalam air laut di planet bumi ini.
(http://pikiran-segar.blogspot.com/2013/08/emas-dapat-ditemukan-dalam-air-laut.html)

Laut Indonesia memiliki potensi besar dalam menyerap karbon. Sebesar 46,6 persen fungsi penyerapan karbon (CO2) oleh lautan dunia, dimiliki Indonesia. Potensi ini seharusnya bisa dilirik, sebagai sumber devisa negara dalam penjualan karbon, format Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM).



Langit biru di kepala kita, ternyata menyimpan bencana. Jutaan kilo jenis karbon mengambang, mengumpul, bersatu dan menyekap bumi seperti di dalam rumah kaca. Tersekap di dalam rumah kaca, jelas akan makin meningkatkan panas suhu bumi. Efeknya terjadi kemudian, salju Kilimanjaro melumer, berbagai flora dan fauna yang tak tahan dengan hawa panas terbunuh, serta perubahan iklim dan cuaca yang merugikan.

Bencana ini sendiri sebenarnya berasal dari tangan manusia sendiri. Dimana karbon yang ada, sebetulnya berasal dari sisa emisi energi fosil yang dipakai manusia. Pemakaian bensin dan solar pada kendaraan, pembuangan emisi dari pabrik-pabrik, merupakan beberapa contoh aktifitas penggunaan energi fosil. Berbagai cara kemudian dilakukan untuk mengurangi hal ini. Termasuk didalamnya, memberikan bantuan dana melalui pembelian karbon, dari negara-negara yang memiliki sumber daya untuk penyerapan karbon kembali ke bumi.

Indonesia sebagai salah satu penanda tangan kesepakatan internasional, yang disebut Protokol Kyoto tersebut, jelas memiliki keuntungan. Karena ternyata negeri kita masih memiliki berbagai potensi sumber daya alam penyerap karbon. Selain hutan, potensi sumber daya penyerap karbon merupakan lautan. Hal ini pernah dijelaskan Anugrah Nontji, peneliti LIPI bidang oseanografi dalam bukunya yang berjudul ‘Tiada Kehidupan di Bumi Tanpa Keberadaan Fitoplankton’. Menurut Nontji, lautan memiliki fitoplankton, yang seperti halnya tumbuhan darat, juga memiliki kemampuan untuk berfotosintesis. Dalam proses fotosintesis tersebut, karbon dikonsumsi oleh fitoplankton untuk menghasilkan senyawa organik lain yang menjadi dasar kehidupan bagi hampir semua mahluk hidup di dunia. Dengan dasar tersebut, dapat dikatakan lautan kita yang berluas hingga 3.288.680 kilometer persegi, sebenarnya berpotensi untuk menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah sangat penting.
Potensi tersebut kemudian terbukti dari riset yang dilakukan Dr Armi Sudandi, peneliti pada bidang meteorologi ITB. “Kami melakukan riset terhadap dua skenario prediksi penyerapan karbon oleh lautan Indonesia,” ujarnya, ketika dihubungi di Bandung, Januari 2007 lalu. Pada dua skenario tersebut, urai Armi, menunjukan prediksi akan terjadi peningkatan penyerapan karbon di laut Indonesia hingga tahun 2050. “Kemudian mengalami penurunan kemampuan penyerapannya dari tahun 2060 hingga tahun 2100,” paparnya.

Angka cakupan penyerapan karbon oleh lautan Indonesia tertera cukup mencengangkan. Dari total penyerapan karbon dari seluruh lautan dunia, ternyata Indonesia mampu mengambil peran sebanyak 46,6 persen. Penelitian itu sendiri, dilakukan pada seluruh titik arah lautan di Indonesia. Dengan menggunakan berbagai data seperti angin, suhu permukaan laut (SST), salinitas permukaan laut (SSS), distribusi suhu serta data konsentrasi karbon.

Jelas ini bak harta karun yang tersimpan rapi. Namun sayangnya potensi itu bisa saja berkurang, atau bahkan hilang sama sekali. Bila kita tak mampu memelihara ekosistem lautan. Polusi dan limbah dari daratan, juga bisa membunuh hewan renik terkecil di lautan ini. Kematiannya jelas merusak ekosistem perairan lautan. Karena banyak satwa laut sebenarnya membutuhkan keberadaannya.

Demikian artikel mengenai potensi laut dalam, semoga bermanfaat.
Share:

Organisme Ekosistem Laut Dalam

Organisme–organisme laut dalam menunjukan adaptasinya terhadap karakteristik laut dalam (bertekanan besar, sushu ekstrem, langkanya makan, suasana gelap gulita). Contoh adaptasi – adaptasi tersebut dapat kita lihat dari contoh organisme yang hidup pada laut dalam antara lain :
1. Viperfish

Viperfish (ditemukan di zona mesopelagik pada kedalaman 80 – 1600 meter) merupakan ikan yang terlihat seperti monster laut yang kejam. Beberapa dari mereka berwarna hitam saat malam dengan organ cahaya (yang disebut dengan photophores). Fotofor terletak pada salah satu tempat strategis pada tubuhnya. Beberapa viperfish dan banyak spesies ikan laut dalam lainnya tidak memiliki pigmen sehingga semua nya transparan. Mereka juga memiliki mata yang besar untuk mengumpulkan cahaya dari daerah yang sangan minim cahaya. Organ penghasil cahaya dari hewan laut mengahsilkan cahaya karena bioluminescen.

Viperfish

2. Fangtooth

Fangtooth atau Anoplogaster cornuta hidup pada kedalaman 16 feet . Meskipun terlihat seperti monster, hanya tumbuh sampai 6 inchi panjangnya, memiliki body yang pensek dan kepala yang besar. Anoplogaster cornuta disebut juga fangtooth karena memiliki taringyang panjang , tajam , serta ggi – gigi lain yang menyerupai taring dalam jumlah yang banyak dan mulut yang besar.

Warna dari fangtooth dewasa berkisar antara coklat gelap hingga hitam. Sedangkan fangtooth muda berwarna abu –abu cerah. Tekanan pada kedalaman 16 feet sangat lah tinggi , air juga hampir membeku, makanan juga sangat langka sehingga fangtooth akan memakan apa saja yang dapat ia temukan. Fangtooth ditemukan hampir ditemukan di seluruh laut dalam di dunia termasuk di daerah tropis.


Fangtootth

3. Dragonfish

Ikan naga ( dragonfish ) atau Grammatostomias flagellibarba,adalah predator buas meskipun berukuran kecil. Dragonfish memiliki kepala yang besar , mulut yang dilengkapi dengan gigi yang menyerupai taring yang tajam. Ikan ini mampu tumbuh hingga panjangnya 6 inchi. Ikan naga (dragonfish) memiliki photophores di sepanjang sisi tubuhnya. Organ penghasil cahaya inilah yng digunakan sebagai tanda kepada dragonfish lainnya selama kawin selain itu digunakan pula untuk menarik perhatian mengsanya. Dragonfish hidup pada kedalaman 5000 feet (1500) meter dan ditemukan pada laut tropis.

Dragonfish

4. Angler (Melanocetus johnsoni)

Angler atau Melanocetus johnsoni, memiliki badan yang berbentuk seperti bola basket.  Melanocetus johnsoni memiliki mulut yang lebar dengan gigi yang menyerupai taring yang tajam. Melanocetus johnsoni hanya tumbuh hingga panjang 5 inchi. Melanocetus johnsoni diberi julukan angler karena ikan tersebutmemiliki tulang belakang yang panjang dan pada ujungnya terdapat photophores ( yang memproduksi cahaya ). Fakta yang aneh dari ikan ini adalah bahwa ikan yang jantan lebih kecil dari ikan betina dan memiliki gigi kait yang kecil yang digunakan untuk menempel pada ikan betina. Ketika menempel maka pembuluh darah ikan jantan akan menyatu dengan pembuluh darah ikan betina. Ikan jantan seperti parasit, karena mendapat seluruh nutrisi nya dari ikan betina. Apabila ikan jantan tidak mampu menempel pada betina maka ia akan mati kelaparan. Melanocetus johnsoni ditemukan pada kedalaman lebih dari 3000 feet.

Angler (Melanocetus johnsoni)

5. Gulper Eel (Eurypharynx pelecanoides)

Gulper Eel atau nama latinnya Eurypharynx pelecanoides merupakan salah satu makhluk teraneh yang hidup di laut dalam. Mulut dari ikan ini sangat lebar sehingga dapat memangsa hewan yang lebih besar dari nya. Perut iakn ini juga dapat meregang untuk mengakomodasi makanan yang besar.Selain itu Eurypharynx pelecanoides juga memiliki ekor yang panjang . Ikan jenis ini ditemukan hampir di seluruh laut di dunia pada kedalaman 3000- 6000 kaki

Eurypharynx pelecanoides

6. Architeuthis dux

Architeuthis dux, merupakan salah satu dari hewan terbesar di bumi dengan panjang mencapa 60 kaki sehingga Architeuthis dux sekaligus menjadi avertebrata terbesar di dunia. Architeuthis dux masuk ke dalam kelas cephalopoda filum molluska dan merupakan hewan karnivora ( ikan memakan apa saja yang dapat ditangkap ).

Architeuthis dux

7. Harriotta raleighana

Harriotta raleighana dapat mencapai 5 feet panjangnya. Ikan jenis memiliki belati kecil seperti hidung yang mengingatkan pada salah satu kontur hidung pesawat jet supersonik. Harriotta raleighana memiliki racun pada bagian pertama tulang belakangnya yang dapat membunuh manusia. Ikan ini hidup pada kedalaman 8000 kaki.

Harriotta raleighana

8. Coffinfish

B. melanostomus memiliki badan yang lembek dan ekor yang panjang yang ditutupi oleh duri – duri kecil. Spesies ini dapat tumbuh hingga panjang minimal 10 cm. B.melanostomus hidup pada kedalaman 1320 m sampai 1760 m. Nama B.melanostomus diambil dari bahasa yunani melanos yang berarti hitam dan stoma yang berarti mulut.

B. melanostomus

9. Bathynomus giganteus

Isopoda raksasa atau yang di kenal dengan nama ilmiah Bathynomus giganteus merupakan salah satu anggota dari family isopoda Hewan ini dapat mencapai panjang hingga 16 inchi . Bathynomus giganteus merupakan krustasea karnivor yang beradaptasi untuk memakan apasaja yang jatuh dasar laut selain itu ia juga memakan beberapa invertebrate kecil yang hidup pada kedalaman 2000 kaki.

Bathynomus giganteus

10. Vampyroteuthis infernalis

Vampyroteuthis infernalis

Demikian artikel mengenai Organisme Ekosistem Laut Dalam, semoga bermanfaat, jangan lupa join this site dan share artikel-artikelnya.
Share:

Zona-zona Laut Dalam

Zona-zona Laut Dalam| Laut dapat dibagi menjadi dua zona yaitu zona bentik (berasosiasi dengan dasar laut) dan zona pelagik (berasosiasi dengan perairan terbuka). Karena terdapat perbedaan lingkungan fisik antara kedua zona ini, maka asosiasi organisme di zona ini sangat berbeda. Dewasa ini mungkin fauna bentik laut dalam lebih dikenal daripada fauna zona pelagik. 

Zona Laut Dalam


Menurut Nybakken(1988 :129), fauna bentik dapat dibagi menjadi dua yaitu penghuni zona batial di lereng benua dan penghuni zona abisal yang merupakan zona terluas di dasar laut dalam. Para penghuni palung – palung yang sangat dalam menempati suatu zona yang dinamakan zona hadal (ultra abisal ).

Di bagian pelagik sebelah atas terdapat suatu zona yang terletak tepat di bawah zona eufotik. Banyak sekali hewan penghuni zona di bawah zona eufotik ini yang mengadakan migrasi ke zona eufotik pada malam hari. Zona ini dinamakan zona mesopelagik yang dihuni oleh sejum lah besar spesies hewan yang memiliki mata yang telah ber`kembang baik dan berbagai organ penghasil cahaya. Kebanyakan spesies ikan penghuni zona mesopelagik berwarna hitam, sedangkan spesies udang berwarna merah. Karena zona ini lebih mudah dicapai dibandingkan dengan zona – zona lainnya, pengetahuan tentang zona ini juga lebih banyak diketahui. Jumlah organisme penghuni zona mesopelagik rupanya terbanyak ataudi antara zona–zona laut dalam lainnya. Zona ini membentang 700 sampai 1000 m dari batas bawah zona eufotik ke arah dasar perairan. Batas bawah nya bergantung pada lokasi perairan, kecerahan, dan factor–factor lain (Nybakken,1988 :129).

Masih sangat sulit untuk mengadakan zonasi kolom air di bawah zona mesopelagik dan batas bawah palung – palung (di kedalaman sekitar 6000m) di bagi menurut Hedgpeth menjadi 2 zona yaitu (Nybakken,1988 :129) :

a. Zona batipelagik di bagian atas
b. Zona abisal pelagic di bawah zona patipelagik.

Batas antara kedua zona ini sangat tidak jelas dan terdapat bermacam–macam pendapat tentang batas kedua zona ini. Dibandingkan dengan zona mesopelagik jumlah individu maupun spesies pada zona batipelagik dan zona abisal pelagik jauh lebih kecil. Penghuni zona ini cenderung berwarna putih atau tidak berwarna serta memiliki mata dan organ – organ penghasil cahaya yang rendah tingkat perkembangannnya. Kolom air yang ada di dalam suatu palung dinamakan zona hadal pelagik.

Demikian artikel mengenai  Zona-zona Laut Dalam, jangan lupa baca juga artikel-artikel lainnya, jika bermanfaat silahkan share.
Share:

Cara Adaptasi Organisme Ekosistem Laut Dalam

Salah satu pembatas kehidupan organisme laut adalah kedalaman. Kedalaman berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan yang lain seperti makanan, cahaya, tekanan, suhu dan lain-lain, semuanya berpengaruh terhadap kondisi ekologi laut dalam terutama terhadap kehidupan organisme (ikan).

Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Dengan keadaan tanpa adanya cahaya matahari, tekanan tinggi, salinitas tinggi dan faktor – faktor yang terdapat di dalam ekosistem laut dalam ini membuat biota laut dalam tersebut melakukan adaptasi, yakni :
1) Adapasi morfologi

Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Pada biota laut dalam, adaptasi morfologi dapat dilihat dari bentuk tubuh biota laut dalam yang kecil dan pada umumnya bertubuh transparan karena tubuhnya tidak mengandung pigmen. Secara morfologis, senjata pembunuh seperti rahang, tengkorak dan dimensi mulut mengalami perubahan pada organisme laut dalam. Ciri umum mereka adalah mulut yang melebar, rahang yang kuat dan gigi-gigi tajam. Mereka harus seoptimal mungkin mencari mangsa yang jarang di laut dalam. Praktek kanibalisme juga sering terjadi di beberapa spesies.

Bentuk spesies non ikan seperti moluska dan sebangsanya akan adaptif untuk memakan mikroorganisme yang ada. Mereka sulit bersaing dengan ikan yang ganas. Untuk senjata mempertahankan diri, mereka biasanya mampu berkamuflase dengan kondisi sekitar.Satu persamaan dari mereka adalah, evolusi morfologis mengubah bentuk mereka menjadi kecil. Jarang ada organisme yang berdimensi panjang lebih dari 25 cm. Contoh dari hewan-hewan laut yang mampu hidup pada zona ini adalah Phronima, Cumi-cumi, Amoeba, Comb Jelly, Cope pod, dan ikan Hatchet.

      a. Warna
  • Umumnya biota laut dalam bertubuh transparan karena tubuhnya tidak mengandung pigmen. Ikan-ikan mesopelagik khusunya cenderung berwarna abu-abu keperakan atau hitam kelam. Tidak terdapat kontras warna seperti pada ikan-ikan epipelagik. Organisme yang hidup pada zona abisal dan batial sering tidak berwarna atau berwarna putih kotor, dan tampaknya tidak berpigmen ( khususnya hewan – hewan bentik ).
      b. Mata
  • Mata yang besar. Mata yang besar akan memberikan kemampuan maksimum untuk mendeteksi cahaya di dalam laut dalam yang intensitas cahaya nya sangat rendah dan mungkin diperlukan pula untuk dapat mendeteksi cahaya berintensitas rendah yang dihasilkan oleh organ – organ penghasil cahaya. Ikan – ikan pada laut dalam juga memiliki penglihatan senja yang sangat peka karena adanya pigmen rodopsin dan tingginya kepadatan batang retina.
  • Tidak bermata. Pada zona laut dalam yang terdalam lebih dari 2000 m ( abisal pelagic dan hadal pelagic ) ikan – ikan yang hidup disitu memiliki mata yang sangat kecil bahkan tidak bermata karena hidup di lingkungan yang gelap gulita bahkan mata tidak ada guna nya.
  • Mata berbentuk pipa tubuler. Mata ikan ikan dari beberapa family berbentuk silinder pendek berwarna hitam dengan sebuah lensa tembus cahaya berbentuk setengah lingkaran di puncak silinder .tiap mata mempunyai 2 retina ( yang satu di pangkal silinder sedangkan yang lainnya di dinding silinder ). Retina di pangkal silinder fungsinya untuk melihat obyek obyek yang dekat sedang yang terdapat di dinding silinder untuk melihat obyek – obyek yang jauh.
      c. Mulut
  • Ikan laut dalam relatif memiliki ukuran mulut yang besar. Dalam mulutnya terdapat gigi yang tajam dan melengkung ke arah tenggorokan, ini menjamin bahwa apa yang tertangkap tidak akan keluar lagi dari mulut. Mulut dihubungkan dengan tengkorak oleh suatu engsel yang memungkinkan ikan membuka sangat lebar daripada tubuhnya, sehingga memungkinkan untuk menelan mangsa yang lebih besar daripada tubuhnya. Hal tersebut dilakukan sebagai adaptasi terhadap langkanya makanan di laut dalam.
  • ikan Viper (Chauliodus macouni). Ikan Viper (ditemukan di 80-1600 meter – sekitar satu mil di bawah permukaan laut) adalah beberapa ikan yang tampak paling jahat di kedalaman. Mereka juga memiliki mata yang besar, kemungkinan untuk mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin karena cahaya sedikit atau tidak sama sekali. Ahli biologi berspekulasi bahwa gigi yang tampak mengerikan dan rahang merupakan adaptasi untuk hidup di lingkungan rendah energi dari laut dalam. Makanan sangat langka di lingkungan yang tidak ramah, sehingga ikan yang tinggal di sini telah mengembangkan rahang yang sangat mematikan untuk memastikan bahwa mangsa mereka tangkap di rahang mereka tidak memiliki cara untuk melarikan diri. (photo courtesy of Paul Yancey, Biology Dept., Whitman College, Walla Walla Washington)

      d. Giagantisme abisal

  • Kelompok – kelompoak invertebrate tertentu khususnya amfipoda, isopoda, ostrakoda, misid, dan kopepoda berukuran jauh lebih besar daripada kerabat – kerabat mereka yang hidup dalam perairan – perairan yang dangkal. Keadaan dimana ukuran membesar dengan meningkatnya kedalaman . Hewan yang berukuran besar lebih mobile serta mampu menjelajahi wilayah yang luas dalam mencari pasangan bagi keperluan reproduksi dan memperoleh makanan. Jangka hidup yang panjang juga berarti bahwa periode dewasa seksual juga panjang, sehingga cukup waktu untuk mencari pasangan bagi kepentingan reproduksi.

2) Adaptasi fisiologi

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Di ekosistem laut dalam dapat dikatakan tidak terdapat produser karena tidak adanya sinar matahari yang menyebabkan tidak adanya proses fotosintesis pada ekosistem tersebut, sehingga biota laut dalam melakukan adaptasi fisiologi. Bentuk adaptasi fisiologi biota laut dalam adalah adalah organisme laut dalam mempunyai kapasitas untuk mengolah energi yang jauh lebih efektif dari makhluk hidup di darat dan zona laut atas. Mereka bisa mendaur energinya sendiri dan menentukan seberapa banyak energi yang akan terpakai dengan stok makanan yang didapat.

Kandungan air dalam jaringan tubuh ikan dan krustasea meningkat seiring dengan meningkatnya kedalaman sedangkan kadar lipid dan protein menurun.


3) Adaptasi Tingkah Laku

Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya. Beberapa organisme yang mengalami siklus reproduksi, akan mempunyai perilaku yang unik untuk menarik pasangannya di tengah kegelapan. Mereka akan memendarkan cahaya yang tampak kontras dengan kondisi sekitar yang serba gelap. Dalam ekosistem dasar laut sebisa mungkin mereka dapat memperoleh sumber energi atau makanan agar dapat bertahan hidup, oleh karena itu beberapa ikan yang hidup di ekosistem ini dilengkapi keahlian khusus agar dapat memperbesar kemungkinan mendapatkan mangsa, seperti Ikan Fang Tooth yang memiliki tingkat agresifitas yang tinggi sehingga ketika ada mangsa yang lewat didepannya ia langsung dapat dengan cepat memakannya, karena memang tidak banyak hewan laut yang mampu hidup dalam ekosistem ini.

Kemudian contoh lainnya adalah Ikan Hairyangler yang tubuhnya dipenuhi dengan atena sensitif, antena tersebut sangat sensitif sekali terhadap setiap gerakan, fungsinya untuk mendeteksi mangsa yang ada didekatnya. Di laut dalam sering terlihat cahaya yang berkedip-kedip, cahaya tersebut adalah Bioluminescence.

Bioluminescence adalah cahaya yang dapat dihasilkan oleh beberapa hewan laut. Bioluminescence dihasilkan dari reaksi kimia (senyawa fosfor) yang terjadi pada tubuh makhluk hidup tertentu. Contoh hewan laut yang memendarkan cahaya adalah cumi-cumi, ubur-ubur, gurita, plankton dan lain-lain. Bioluminescence digunakan oleh hewan laut dalam sebagai alat perangkap atau alat untuk menarik mangsa, kurang lebih bioluminescence berfungsi sebagai umpan. Pada umumnya bioluminescence dimiliki oleh setiap hewan laut dalam, baik betina maupun jantan. Namun beberapa diantaranya ada yang hanya dimiliki oleh hewan laut betina. Cahaya bioluminescence yang dihasilkan biasa berwarna biru atau kehijauan, putih, dan merah. Walau sebagian besar bioluminescence digunakan untuk mekanisme bertahan hidup, namun beberapa diantara hewan laut dalam tersebut menggunakan bioluminescence untuk menarik lawan jenisnya.

Organ penghasil cahaya disebut fotofor. Khusus pada ikan dan cumi – cumi, fotofor terdapat dalam jumlah yang besar. Hewan yng memiliki fotofor paling banyak terdapat di bagian atas laut dalam, yaitu zona mesopelagik dan bagian atas zona batipelagik. Di bagian terdalam dari laut dalam jarang ditemukan bioluminesens ( Nybakken,1988 :149 ).

Fungsi fotofor antara lain ( Nybakken,1988 :151 ) :
  • Melumpuhkan sejenak predator . hal ini dapat terjadi karena fotofor menghasilkan suatu cahaya kilat yang menyilaukan
  • Sebagai umpan agar organisme yang dimangsa mendekat sampai jarak jangkau terkaman seekor predator
  • Menerangi daerah sekelilingnya sehingga suatu predator dapat melihat mangsanya.

Secara umum, fungsi bioluminescence menjadi 3 kelompok, yaitu :

1. Pertahanan


Kelompok dinoflagellata, atau yang biasa kita sebut dengan kelompok ubur-ubur, menggunakan emisi cahaya dari enzim green flourecent protein-nya untuk mempertahankan diri dari serangan predator. Beberapa jenis dekapoda, sefalopoda dan ikan menggunakan pendaran cahaya ini sebagai kamuflase untuk sembunyi dari predatornya. Mekanisme pertahanan ini membuat mereka tersamarkan diantara sinar lain di perairan. Pada beberapa hewan darat yang juga mengeluarkan cahaya berpendar ini mekanisme pertahanan dengan menggunakan emisi cahaya disebut aposematisme. Penyamaran dengan menggunakan aposematisme tersebut membuat hewan-hewan tersebut seakanakan beracun untuk dimakan atau tidak enak untuk dimakan sehingga predator akan menghindarinya. Kunang-kunang adalah salah satu hewan yang mengeluarkan cahaya berpendar sebagai aposematisme sehingga predator mengganggap bahwa kunang-kunang tersebut beracun. Beberapa hewan laut nampak enggan untuk memakan zooplankton dikarenakan zooplankton mengeluarkan bioluminescence. Zooplankton tersebut akan mengeluarkan cahayanya saat berada di perut predator, sehingga predator tersebut mudah ditemukan oleh predator lain yang lebih tinggi tingkatannya. Fenomena ini tampak pada udang misid yang memakan dinoflagelata sehingga tubuhnya akan berpendar dan mudah dikenali oleh pemangsa yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu Porichthys notatus.

2. Predasi


Selain sebagai pertahanan, bioluminescence juga digunakan para predator untuk menarik mangsanya. Predator yang menggunakan emisi cahaya sebagai predasi adalah ikan angel dan hiu Isistius brasiliensis. Hiu Isistius brasilensis menggunakan bagian bawah rahangnya untuk menarik mangsanya. Cumi-cumi dan ikan-ikan kecil akan mendekat pada cahaya tersebut karena mengira siluet tersebut adanya penyamaran dari mangsa-mangsa mereka. Setelah mangsa-mangsa tersebut mendekat pada rahang paus tersebut, itu akan lebih mudah bagi paus untuk menangkap mangsanya. Selain pada paus Isistius brasiliensis, paus sperma atau Physeter macrocephalus juga melakukan hal yang sama dalam melakukan predasi.

3. Sinyal Kawin

Beberapa hewan yang mempunyai bioluminescence menggunakan emisi cahayanya sebagai pertahanan dan predasi.

a. Reaksi Gen Bioluminescence

Reaksi bioluminescence pada setiap organisme berbeda-beda, bergantung pada organisme itu sendiri dan enzim yang dikandung dalam reaksi bioluminescence tersebut. Namun secara umum, reaksi bioluminescence melibatkan enzim luciferase dan substrat luciferin yag strukturnya dapat berbeda-beda antara satu organisme dengan organisme lainnya. Berikut dipaparkan reaksi bioluminescence pada beberapa organisme:

      1. Bakteri
  • Reaksi bioluminescence pada bakteri yang menyebabkan bakteri tersebut berpendar adalah sebagai berikut :
  • FMNH2 + RCHO + O2 à FMN + RCOOH + H2O + hv
  • Reaksi yang terjadi bersifat spesifik dan merupakan oksidasi dari senyawa Riboflafin Fosfat (luciferin bakteri) serta rantai panjang aldehida lemak sehingga menghasilkan emisi cahaya hijau-biru yang dikatalis oleh enzim luciferase. Namun selain luciferase, masih ada enzim-enzim lain yang bekerja pada reaksi ini. Enzim-enzim tersebut diatur oleh sebuah operon yang disebut operon lux.
      2. Dinoflagelata
  • Pada Dinoflagelata, substrat luciferin yang bekerja untuk menghasilkan emisi cahaya ini sangat mirip dengan klorofil pada tumbuhan hanya berbeda pada ion metalnya. Struktur luciferin ini juga ditemukan pada sejenis udang yang bergenus euphausiid. Pada pH ± 8, molekul luciferinnya akan berikatan dan dilindungi oleh protein pengikat luciferin. Namun, jika pada pH ±6, enzim luciferin ini akan berubah konformasinya, kemudian sisi aktifnya bebas dan kemudian dihasilkanlah cahaya bioluminescence.
     3. Ostracod
  • Enzim yang dihasilkan pada Ostracod atau sejenis udang-udangan ini bergantung pada makanannya. Beberapa ikan dapat berhenti berpendar jika ia kekurangan makanannya. Sejauh ini substrat luciferin pada sejenis Ostracod ini adalah dari keluarga Cypridina, Vargula, dan beberapa jenis ikan 
Demikian artikel mengenai  Cara Adaptasi Organisme Ekosistem Laut Dalam, semoga bermanfaat. Jangan lupa untuk bergabung dengan follow blog ini.
Share:

Definition List

Unordered List

Support