Blog buat belajar

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Zona Intertidal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zona Intertidal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 April 2015

Karakteristik dan Ekologi Daerah Zona Intertidal

Karakteristik Zona Intertidal| Sebelum membaca mengenai zona intertidal, baca dahuu mengenai Pengertian Zona Intertidal. Zona intertidal memiliki luas yang sangat terbatas, meliputi wilayah yang terbuka pada saat surut tertinggi dan terendam air pada saat pasang tertinggi atau separuh waktu berupa ekosistem terrestrial dan separuhnya berupa ekosistem akuatik. Walaupun wilayahnya sempit, daerah intertidal memiliki variasi faktor linkungan terbesar dibanding dengan ekosistem lainnya, dan variasi ini dapat terjadi pada daerah yang hanya berbeda jarak beberapa sentimeter saja.
Karakteristik zona intertidal yaitu:
  1. Pasang-Surut. Naik dan turunnya permukaan air laut secara periodik selama interval waktu tertentu. Pasang-surut merupakan faktor lingkungan paling penting yang mempengaruhi kehidupan di zona intertidal. Tanpa adanya pasang-surut yang periodik maka faktor-faktor lingkungan lain akan kehilangan pengaruhnya. Hal ini disebabkan adanya kisaran yang luas pada banyak faktor fisik akibat hubungan langsung yang bergantian antara keadaan terkena udara terbuka dan keadaan terendam air. Pengaruh pasang-surut terhadap organisme dan komunitas zona intertidal paling jelas adalah kondisi yang menyebabkan daerah intertidal terkena udara terbuka secara periodik dengan kisaran parameter fisik yang cukup lebar. Organisme intertidal perlu kemampuan adaptasi agar dapat menempati daerah ini. Faktor-faktor fisik pada keadaan ekstrem dimana organisme masih dapat menempati perairan, akan menjadi pembatas atau dapat mematikan jika air sebagai isolasi dihilangkan.
  2. Suhu. Suhu di daerah intertidal biasanya mempunyai kisaran yang luas selama periode yang berbeda baik secara harian maupun musiman dan dapat melebihi kisaran toleransi organisme. Jika pasang-surut terjadi pada kisaran suhu udara maksimum (siang hari yang panas) maka batas letal dapat terlampaui. Meskipun kematian tidak segera terjadi namun organisme akan semakin lemah karena suhu yang ekstrem sehingga tidak dapat menjalankan aktivitas seperti biasa dan akan mati karena sebab-sebab sekunder. Suhu juga dapat berpengaruh secara tidak langsung yaitu kematian karena organisme kehabisan air.
  3. Ombak. Gerakan ombak di daerah intertidal memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap organisme dan komunitas dibanding dengan daerah lautan lainnya. Pengaruh ombak dapat terjadi secara langsung maupun tidak.
    a. Pengaruh langsung: Secara mekanik ombak dapat menghancurkan dan menghanyutkan  benda yang terkena. Pada pantai berpasir dan berlumpur kegiatan ombak dapat membongkar substrat sehingga mempengaruhi bentuk zona. Terpaan ombak dapat menjadi pembatas bagi organisme yang tidak dapat menahan terpaan tersebut. Ombak dapat membentuk batas zona intertidal lebih luas, akibatnya organisme laut dapat hidup di daerah air yang lebih tinggi di daerah yang terkena terpaan ombak dari pada di daerah tenang pada kisaran pasang-surut yang
    b.  Pengaruh tidak langsung: Kegiatan ombak dapat mengaduk gas-gas atmosfer ke dalam air, sehingga meningkatkan kandungan oksigen. Karena interaksi dengan atmosfer terjadi secara teratur dan terjadi pembentukan gelembung serta pengadukan substrat, maka penetrasi cahaya di daerah yang diterpa ombak dapat berkurang.
          4. Salinitas. Perubahan salinitas di daerah intertidal dapat melalui dua cara:
      a. Zona intertidal terbuka pada saat surut, dan kalau hal ini terjadi pada saat hujan lebat maka salinitas akan turun. Apabila penurunan ini melewati batas toleransi bagi organisme (sebagian besar organisme intertidal stenohalin dan osmokonformer) maka organisme dapat mati.
      b. Pada daerah intertidal pantai berbatu yang memiliki banyak cekungan, daerah ini dapat digenangi air tawar yang masuk ketika hujan deras sehingga menurunkan salinitas, atau memperlihatkan kenaikan salinitas jika terjadi penguapan sangat tinggi pada siang hari.
          5. Substansi dasar. Substrat dasar zona intertidal memiliki variasi yang berbeda dan dapat   
              berupa  pasir, lumpur maupun berbatu. Substrat dasar ini menyebabkan perbedaan struktur
              komunitas flora dan fauna yang berbeda.

    Ekologi Daerah Intertidal (pasang-surut)

    Susunan faktor-faktor lingkungan dan kisaran yang dijumpai di zona intertidal sebagian disebabkan zona ini berada di udara terbuka selama waktu tertentu dalam setahun. Kebanyakan factor menunjukkan kisaran yang lebih besar di udara daripada di air.

    Secara umum daerah intertidal sangat dipengaruhi oleh pola pasang dan surutnya air laut, sehingga dapat dibagi menjadi tiga zona. Zona pertama merupakan daerah diatas pasang tertinggi dari garis laut yang hanya mendapatkan siraman air laut dari hempasan riak gelombang dan ombak yang menerpa daerah tersebut backshore (supratidal), zona kedua merupakan batas antara surut terendah dan pasang tertinggi dari garis permukaan laut (intertidal) dan zona ketiga adalah batas bawah dari surut terendah garis permukaan laut (subtidal).

    Sebagai akibat adanya perubahan kondisi pasang dan kondisi surut airlaut dan akibat aktifitas ombak pantai, menyebabkan kondisi fisik pantai akan selalu berubah baik secara temporal maupun secara spasial. Perubahan secaratemporal membuat kondisi fisik pantai akan berbeda dalam rentang waktu jam, hari, bulan maupun tahun. Perubahan secara spasialmembuat kondisi fisik dapat berubah-ubahpada berbagai tempat sekalipun jaraknya cukup berdekatan.


    Faktor Penyebab Distribusi Zonasi Pada Daerah Intertidal

    Ada berbagai faktor yang menyebabkan adanya berbagai macam distribusi pada daerah intertidal. Pada dasarnya faktor tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yang saling terkait yaitu:
    • Faktor fisika. Faktor ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada ekosistem intertidal. Akibat adanya pasang surut maka menyebabkan faktor pembatas pada daerah ini menjadi lebih ekstrim. Faktor pembatas tersebut yaitu kekeringan, suhu, dan sinar matahari ketiga faktor tersbeut saling terkait. Jika laut surut maka daerah intertidal terekspose oleh sinar matahari, akibatnya suhu meningkat. Suhu yang meningkat menyebabkan penguapan dan dampaknya daerah menjadi kering.
    • Faktor biologis. Faktor ini sangat tergantung dari faktor fisik perairan. Organisme berusaha untuk menyesuaikan diri pada keadaan yang sangat ekstrim tersebut. Ada berbagai macam cara organisme menyesuaikan diri salah satunya dengan mengubur diri atau memodifikasi bentuk cangkang agar dapat hidup pada derah yang
    Pembagian Zonasi Pada Ekosistem Intertidal

    Pada dasarnya pantai dibagi dalam beberapa jenis berdasarkan bentuk substrat utama penyusun pantai, yaitu:
    1. Pantai berbatu
    2. Pantai berpasir,dan
    3. Pantai berlumpur
    Ketiga jenis pantai tersebut memiliki bentuk zonasi yang berbeda. Selain pantai berbatu zona intertidal juga banyak ditemukan pada jenis pantai yang lain.

    Manfaat ekosistem Intertidal

    Ekosistem intertidal memiliki beberapa manfaat diantaranya yaitu :
    • Sangat kaya akan oksigen karena sering terjadi hempasan pasang surut air laut
    • Sebagai tempat hidup sebagian besar hewan invertebrate
    Demikian artikel mengenai Karakteristik dan Ekologi Daerah Zona Intertidal, baca juga artikel mengenai biota zona intertidal dan pola adaptasinya.

    Share:

    Zona intertidal

    Zona intertidal adalah zona littoral yang secara reguler terkena pasang surut air laut, tingginya adalah dari pasang tertinggi hingga pasang terendah. Didalam wilayah intertidal terbentuk banyak tebing-tebing, cerukan, dan gua, yang merupakan habitat yang sangat mengakomodasi organisme sedimenter. Morfologi di zona intertidal ini mencakup tebing berbatu, pantai pasir, dan tanah basah / wetlands.
    Zona intertidal memiliki kekayaan nutrien yang tinggi dari laut yang dibawa oleh ombak. Zona ini merupakan bagian laut yang paling dikenal dan paling dekat dengan kegiatan manusia apalagi dalam melakukan berbagai macam aktivitas, hanya di daerah inilah penelitian dapat langsung kita laksanakan secara langsung selama perioda air surut, tanpa memerlukan peralatan khusus. Letak zona intertidal yang dekat dengan berbagai macam aktifitas manusia, dan mmeiliki lingkungan dengan dinamika yang tinggi menjadikan kawasan ini sangat rentan terhadap gangguan. Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh terhadap segenap kehidupan di dalamnya. Pengaruh tersebut salah satunya dapat berupa cara beradaptasi. Adaptasi ini diperlukan untuk mempertahankan hidup pada lingkungan di zona intertidal. Keberhasilan beradaptasi akan menentukan keberlangsungan organisme di zona intertidal.

    Zona intertidal merupakan daerah laut yang dipengaruhi oleh daratan. Zona ini memiliki faktor fisik maupun faktor kimia yang mendukung semua organisme di dalarnnya untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Nyabakken (1988:35) dalam Katili (2011 : 52) mengemukakan bahwa "Zona intertidal adalah daerah pantai yang terletak antara pasang tinggi dan surut terendah, daerah ini mewakili peralihan dari kondisi lautan ke kondisi daratan". Zona ini luasnya sangat terbatas, tetapi banyak terdapat variasi faktor lingkungan yang terbesar dibandingkan dengan daerah lautan lainnya. karena itu keragaman organismenya sangat besar.

    Menurut Nybakken (1988 : 35) menyatakan bahwa zona intertidal (pasang-surut) merupakan daerah terkecil dari semua daerah yang terdapat di samudera dunia. Merupakan pinggiran yang sempit sekali hanya beberapa meter luasnya. Terletak di antara air tinggi dan air rendah. Zona ini merupakan bagian laut yang mungkin paling banyak dikenal dan dipelajari karena sangat mudah dicapai manusia. Hanya di daerah inilah penelitian terhadap organisme perairan dapat dilaksanakan secara langsung selama periode air surut, tanpa memerlukan peralatan khusus. Zona intertidal telah diamati dan dimanfaatkan oleh manusia sejak prasejarah.

    Susunan faktor-faktor lingkungan dan kisaran yang dijumpai dizona intertidal sebagian disebabkan zona ini berada diudara terbuka selama waktu tertentu dalam setahun, dan kebanyakan faktor fisiknya menunjukkan kisaran yang lebih besar di udara daripada di air. Menurut Prajitno, 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi lingkungan zona intertidal diantaranya adalah :
    • Pasang-surut, yaitu naik turunnya permukaan air laut secara periodik selam interval waktu tertentu. Pasang-surut merupakan faktor lingkungan paling penting yang mempengaruhi kehidupan di zona intertidal. Tanpa adanya pasang-surut secara periodik zona ini tidak berarti dan faktor lain akan kehilangan pengaruhnya. Penyebab terjadinya pasang surut dan kisaran berbeda sangat kompleks dan berhubungan degan interaksi tenaga penggerak pasang surut, matahari, bulan, rotasi bumi dan geomorfologi samudra.
    • Suhu, mempengaruhi zona intertidal selama harian/ musiman. Kisaran ini dapat melebihi batas toleransi.
    • Perubahan salinitas, dapat mempengaruhi organisme terjadi di zona intertidal melalui dua cara. Pertama, karena zona intertidal terbuka pada saat pasang urun kemudian digenangi air atau aliran air akibat ujan lebat, salinitas yang turun. Kedua, ada hubungannya dengan genangan pasang surut, yaitu daerah yang menampung air laut ketika pasang turun.
    • Gelombang, merupakan parameter utama dalam proses erosi atau sedimentasi besarnya erosi tergantung pada besarnya energi dihempaskan oleh gelombang. Gelombang/ ombak dibagi 2 macam yaitu ombak terjun dan ombak landa.
    • Ombak terjun, biasanya terlihat dipantai yang lautnya terjal. Ombak ini mengulung tinggi. Kemudian jatuh dengan bunyi yang keras dan bergemuruh.
    • Ombak landai, terbentuk di pantai yang dasar lautnya di landai. Sehingga bergulung ke pantai agak jauh sebelum pecah. 
    Demikian artikel mengenai zona intertidal, baca juga artikel mengenai karakteristik zona intertidal.
    Share:

    Biota pada Zona Intertidal dan Pola Adaptasinya

    Biota pada Zona Intertidal dan Pola Adaptasinya| Biota pada ekosistem pantai berbatu adalah salah satu daerah ekologi yang paling familiar, habitat dan interaksinya sudah diketahui oleh ilmuan, penelitian diadakan di pulau cruger yang pantai utaranya merupakan (freshwater) air tawar dan berbatu. Fauna pada pantai berbatu pulau cruger berkarakteristik dominan pada binatang air tawar. Sebagian besar berupa Dipterans, Nematodes, Microannelida, Gastropoda, Bivalves dan Flatworms secara keseluruhan, macroinvertebrate yang ada di pantai ini berasal dari golongan Tubellaria, Nematoda, Oligochaeta, Gastropoda, Dreissna, Acari, Amphipoda, Ephemeroptera, Trichoptera, coteoptera, Ceratopogonidae, Chironomidae. Sama seperti lingkungan air tawar, serangga menjadi hal umum dicruger Island. Serangga yang terdapat adalah Epheraroptera, Trichoptera, coleoptera dan diptera.
    Menurut Nybakken, (1988). Dilingkungan laut khususnya di intertidal. Spesies yang berumur panjang cenderung terdiri dari berbagai hewan inverbrata.hewan-hewan intertidal dominan yang menguasai ruang selain Mytilus californianus yang terdapat dalam jumlah banyak di pesisir pasifik adalah teritip Balanus cariogus dan Balanus glandula. Dua spesies tersebut terdapat melimpah di wilayah intertidal walaupun kenyataannya mereka bersaing dengan M. californianus hal ini menyebabkan pertumbuhan teritip dapat berlangsung dengan baik. Pisaster ochraceus merupakan predator kerang yang rakus sehingga secara efektif mencegah kerang menempati seluruh ruang.

    Pantai yang terdiri dari batu-batuan (rocky shore) merupakan tempat yang sangat baik nagi hewan-hewan atau tumbuhan-tumbuhan yang dapat menempelkan diri pada lapisan ini. Golongan ini termasuk banyak jenis gastropoda, moluska dan tumbuh-tumbuhan yang berukuran besar. Dua spesies Uttorina undulata dan tectarius malaccensis, tinggal dan hidup di bagian batas atas dari pantai di bawahnya berturut-turut ditempati oleh jenis spesies lain Monodonta labio dan Nerita undata. Kemudian oleh Cerithium morus dan Turbo intercostalis. Akhirnya pada batas yang paling bawah terdapat lambis-lambis dan Trochus gibberula (Hutabarat, 2008).

    Pola Adaptasi Biota Zona Intertidal

    Bentuk adaptasi adalah mencakup adaptasi structural, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku. Adaptasi structural merupakan cara hdup untuk menyesuaikan dirinya dengan mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh kearah yang lebh sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidup.

    Adaptasi fisiologi adalah cara makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara penyesaian proses-proses fisiologis dalam tubuhnya. Adaptasi tingkah laku adalah respon-respon hewan terhadap kondisi lingkungan dalam bentuk perubahan tingkah laku. 

    Organisme intertidal memilki kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang dapat berubah secara signifikan, pola tersebut meliputi:
    • Daya Tahan terhadap Kehilangan air.
    • Organisme laut berpindah dari air ke udara terbuka, mereka mulai kehilangan air.Mekanisme yang sederhana untuk menghindari kehilangan air terlihat pada hewan-hewan yang bergerak seperti kepiting dan anemon.
    • Pemeliharaan Keseimbangan Panas
    • Organisme intertidal juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan dingin yang ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur tubuh untuk menjaga keseimbangan panas internal.
    • Tekanan mekanik
    • Gerakan ombak mempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai berbatu dan pada pantai berpasir. Untuk mempertahankan posisi menghadapi gerakan ombak, organisme intertidal telah membentuk beberapa adaptasi.
    • Pernapasan
    • Diantara hewan intertidal terdapat kecenderungan organ pernapasan yang mempunyai tonjolan kedalam rongga perlindungan untuk mencegah kekeringan. Hal ini dapat terlihat jelas pada berbagai moluska dimana insang terdapat pada rongga mantel yang dilindungi cangkang.
    • Cara Makan
    • Pada waktu makan, seluruh hewan intertidal harus mengeluarkan bagian-bagian berdaging dari tubuhnya. Karena ituseluruh hewan intertidal hanya aktif jika pasang naik dan tubuhnyaterendam air. Hal ini berlaku bagi seluruh hewan baik pemakan tumbuhan, pemakan bahan-bahan tersaring, pemakan detritus maupun predator.
    • Tekanan Salinitas
    • Zona intertidal juga mendapat limpahan air tawar yang dapat menimbulkan masalah tekanan osmotik bagi organisme intertidal yang hanya dapat menyesuaikan diri denagn air laut. Kebanyakan tidak mempunyai mekanisme untuk mengontrol kadar garam cairantubuhnya dan disebutosmokonformer. Adaptasi satu-satunya samadengan adaptasi untuk melindungi dari kekeringan
    • Reproduksi
    • Kebanyakan organisme intertidal hidup menetap atau bahkan melekat, sehingga dalam penyebarannya mereka mmenghasilkan telur atau larva yang terapung bebas sebagai plankton. Hampir semua organisme mempunyai daur perkembangbiakan yang seirama dengan munculnya arus pasang surut tertentu, seperti misalnya pada waktu pasang purnama.

    Ancaman terbesar dari kerusakan daerah intertidal adalah aktivitas manusia, dimana banyak dari aktivitas manusia yang dapat merusak ekosistem intertidal misalnya membuang sampah di pantai serta mengambil hewan-hewan yang hidup di daerah intertidal tersebut. Hal ini dapat merusak kesimbangan ekosistem pada zona intertidal.

    Demikian artikel mengenai Biota pada Zona Intertidal dan Pola Adaptasinya, baca juga artikel zona intertidal lainnya.
    Share:

    Definition List

    Unordered List

    Support