Blog buat belajar

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Terumbu Karang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terumbu Karang. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 April 2015

Manfaat dan Faktor-Faktor yang Merusak Ekosistem Terumbu Karang

Manfaat dan Faktor-Faktor yang Merusak Ekosistem Terumbu Karang| Terumbu Karang sebagai ekosistem memunyai manfaat dari berbagai segi, seperti segi ekonomi,  segi fungsi ekologis, dan juga sosial ekonominya. Untuk menjaga segala manfaat yang diberikan, maka kita harus mengetahui faktor-faktor yang dapat merusak ekosistem terumbu karang baik secara alami ataupun dari ulah campur tangan manusia.
 
 Manfaat ekosistem terumbu karang
  1. Dari segi ekonomi, ekosistem terumbu karang memiliki nilai estetika dan tingkat keanekaragaman biota yang tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan, bahan obat – obatan ataupun sebagai objek wisata bahari.
  2. Dari fungsi ekologisnya, terumbu karang yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menyumbangkan stabilitas fisik, yaitu mampu menahan hempasan gelombang yang kuat sehingga dapat melindungi pantai dari abrasi.
  3. Dari segi social ekonomi, terumbu karang adalah sumber perikanan yang produktif sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan, penduduk pesisir, dan devisa Negara yang berasal dari devisa perikanan dan pariwisata.
Faktor- faktor yang Merusak Terumbu Karang

Kebanyakan ekosistem terumbu karang kini sudah terancam keberadaannya, banyak faktor-faktor yang memengaruhi kerusakan dari ekosistem terumbu karang baik karena alam ataupun karena campur tangan manusia  :
  • Pengendapan kapur, pengendapan kapur dapat berasal dari penebangan pohon yang dapat mengakibatkan pengikisan tanah (erosi) yang akan terbawa kelaut dan menutupi karang sehingga karang tidak dapat tumbuh karena sinar matahari tertutup oleh sedimen.
  • Aliran air tawar, aliran air tawar yang terus menerus dapat membunuh karang, air tawar tersebut dapat berasal dari pipa pembuangan, pipa air hujan ataupun limbah pabrik yang tidak seharusnya mengalir ke wilayah terumbu karang.
  • Berbagai jenis limbah dan sampah, bahan pencemar bisa berasal dari berbagai sumber, diantaranya adalah limbah pertanian, perkotaan, pabrik, pertambangan dan perminyakan.
  • Pemanasan suhu bumi, pemanasan suhu bumi dikarenakan pelepasan karbon dioksida (CO2) ke udara. Tingginya kadar CO2 di udara berpotensi meningkatan suhu secara global. yang dapat mengakibatkan naiknya suhu air laut sehingga karang menjadi memutih (bleaching) seiring dengan perginya zooxanthelae dari jaringan kulit karang, jika terjadi terus menerus maka pertumbuhan terumbu karang terhambat dan akan mati.

  • Uji coba senjata militer, pengujian bahan peledak dan nuklir di laut serta kebocoran dan buangan reaktor nuklir menyebabkan radiasi di laut, bahan radio aktif tersebut dapat bertahan hingga ribuan tahun yang berpotensi meningkatkan jumlah kerusakan dan perubahan genetis (mutasi) biota laut.
  • Cara tangkap yang merusak, cara tangkap yang merusak antara lain penggunaan muro-ami, racun dan bahan peledak.

  • Penambangan dan pengambilan karang, pengambilan dan penambangan karang umumnya digunakan sebagai bahan bangunan. Penambangan karang berpotensi menghancurkan ribuan meter persegi terumbu dan mengubah terumbu menjadi gurun pasir bawah air.
  • Penambatan jangkar dan berjalan pada terumbu, nelayan dan wisatawan seringkali menambatkan jankar perahu pada terumbu karang.Jangkar yang dijatuhkan dan ditarik diantara karang maupun hempasan rantainya yang sangat merusak koloni karang.

  • Serangan bintang laut berduri, bintang laut berduri adalah sejenis bintang laut besar pemangsa karang yang permukaanya dipenuhi duri. Ia memakan karang dengan cara manjulurkan bagian perutnya ke arah koloni karang, untuk kemudian mencerna dan membungkus polip-polip karang dipermukaan koloni tersebut.
Demikian artikel Manfaat dan Faktor-Faktor yang Merusak Ekosistem Terumbu Karang, baca juga artikel yang lainnya, semoga dapat bermanfaat.
Share:

Minggu, 12 April 2015

Organisme Ekosistem Terumbu Karang dan Rantai Makanannya

Organisme Ekosistem Terumbu Karang dan Rantai Makanannya| Sebagai ekosistem, terumbu karang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat banyak. Untuk itu pada artikel ini kita akan membahas mengenai keanekaragaman organisme ekosistem terumbu karang, dan juga membahas mengenai rantai makanan pada ekosistem tersebut.
 
  • Algae
  • Ganggang (algae) merupakan suatu kelompok tumbuh-tumbuhan yang besar dan beraneka ragam yang biasanya terdapat di dalam lingkungan akuatik. Mereka adalah produser primer, sebagai produser primer, algae mampu menangkap energi surya dan menggunakannya untuk menghasilkan gula dan senyawa majemuk lainnya dengan menyimpan energi. Lamun adalah salah satu vegetasi yang hidup di sekitar terumbu karang. Lamun mempunyai manfaat sebagai perangkap sedimen.
Anggota Algae
Anggota Padang Lamun
    • Filum Cnidaria
    • Hewan karang dari filum Cnidaria merupakan kelompok- kelompok utama dari dunia hewan yang sangat penting dalam ekosistem terumbu karang. Filum Cnidaria itu dibagi menjadi empat kelompok, yaitu Hydrozoa, Scyphozoa, Cubozoa dan Anthozoa. 

    Anggota Kelas Anthozoa
    Anggota Kelas Cubozoa
    Anggota Kelas Hydrozoa
    Anggota Kelas Scyphozoa
    • Upa Filum Crustacea 
    • Crustacea merupakan kelompok yang amat terkenal dari filum Arthropoda yang hidup dalam terumbu karang. Mereka terdiri dari teritip, kepiting, udang, lobster dan udang karang. Banyak hewan Crustacea ini mempunyai hubungan khusus dengan hewan lain di terumbu karang. Teritip menempel pada beberapa substrat seperti penyu dan kepiting; udang pembersih dengan beberapa ikan; atau udang kecil berwarna dengan anemone.
    Anggota Upafilum Crustacea
    • Mollusca 
    • Mollusca menyumbangkan cukup banyak kapur kepada ekosistem terumbu yang merupakan penyumbang penting terbentuknya pasir laut. Keanekaragaman Mollusca memainkan peranan penting di dalam jaringan makanan terumbu karang yang rumit ini. Mereka juga menjadi dasar bagi perdagangan besar cangkang hias dan penunjang utama perikanan seperti kerang dan cumi- cumi.
    Anggota Filum Mollusca
    • Echinodermata 
    • Echinodermata adalah penghuni perairan dangkal dan umumnya terdapat di terumbu karang dan padang lamun. Bintang laut yang omnivora memakan apa saja mulai dari sepon, teritip, keong dan kerang. Teripang mendiami sebagain besar terumbu karang dan memakan alga dan detritus dasar. Mereka mempunyai alami sedikit dan manusia barangkali yang menjadi pemangsa yang rakus.
    Anggota Filum Echinodermata
    • Ikan Karang
    • Ikan Karang dibagi ke dalam tiga kelompok:
    1. Ikan target, yaitu ikan-ikan yang lebih dikenal oleh nelayan sebagai ikan konsumsi seperti Famili Serranide, Lutjanidae, Haemulidae, Lethrinidae.
    2. Kelompok jenis indikator yaitu ikan yang digunakan sebagai indikator bagi kondisi kesehatan terumbu karang di suatu perairan seperti Famili Chaetodontidae.
    3. Kelompok ikan yang berperan dalam rantai makanan, karena peran lainnya belum diketahui seperti Famili Pomacentridae, Scaridae, Acanthuridae, Caesionidae, Siganidae, Muliidae, Apogonidae.
    • Banyak ikan yang mempunyai daerah hidup di terumbu karang dan jarang dari ikan-ikan tersebut keluar daerahnya untuk mencari makanan dan tempat perlindungan. Batas wilayah ikan tersebut didasarkan pada pasokan makananan, keberadaan predator, daerah tempat hidup, dan daerah pemijahan.
    • Reptilia 
    • Reptilia yang terdapat pada ekosistem terumbu karang hanya dua kelompok yaitu, ular laut dan penyu. Dua klompok ini terancam punah. Ular ditangkap untuk kulitnya, dan penyu terutama untuk telurnya.
    Rantai Makanan pada Ekosistem Terumbu Karang

    Rantai Makanan pada Ekosistem Terumbu Karang

    Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan - herbivora - carnivora - omnivora).

    Pada rantai makanan (food chain) di ekosistem terumbu karang, sinar matahari berperan sangat penting dalam proses fotosintesis, sinar matahari adalah sumber energi dari semua makhluk hidup. Sinar matahari memberi energy kepada produser (yang dalam ekosistem terumbu karang adalah phytoplankton, zooxanthellae, rumput laut dan alga merah) sehingga produser dapat berfotosintesis. Kemudian, phytoplankton, zooxanthalae, rumput laut, alga merah berperan sebagai produsen utama dalam proses rantai makanan yang terjadi pada ekosistem terumbu karang. Di ekosistem terumbu karang akan ada konsumer tingkat satu atau konsumer primer yang terdiri dari Zooplankton, larva, ikan kecil landak laut, kerang-kerangan, dan sebagainya, yang nantinya akan berperan untuk memakan phytoplankton, rumput laut, alga merah dan zooxhanthalae. Lalu selain konsumer primer, di sebuah ekositem juga terkadang mempunyai konsumen tingkat dua atau yang disebut konsumen sekunder. Konsumer tingkat sekunder terdiri dari molusca, crustasea, lobster, ikan-ikan sedang. Konsumer sekunder berfungsi sebagai pemangsa konsumer tingkat I. Selain itu ada pula konsumer tingkat ketiga atau yang disebut dengan konsumer tingkat tinggi. Konsumer ini terdiri dari ikan hiu dan ikan-ikan karnivor lainnya. Konsumer tingkat tinggi itu berperan sebagai pemangsa ikan-ikan sedang, lobster, molusca, crustacean dan lain-lain. Dan pada akhirnya, ada dekomposer berupa bakteri dan fungi yang berperan sebagai pengurai dari semua makhluk hidup yang sudah mati di ekosistem terumbu karang.

    Demikian artikel mengenai  Organisme Ekosistem Terumbu Karang dan Rantai Makanannya, baca juga artikel-artikel ekosistem lainnya yang mungkin bermanfaat untuk Anda semua. Terima kasih.
    Share:

    Bentuk Terumbu Karang

    Bentuk Terumbu Karang dan Faktor yang Memengaruhinya| Setelah sebelumnya membahas mengenai Ekosistem Terumbu Karang dan Formasi Terumbu Karang, pada artikel ini kita akan membahas mengenai bentuk terumbu karang dan faktor yang memengaruhi pertumbuhan tersebut.
    Karang memiliki variasi bentuk pertumbuhan koloni yang berkaitan dengan kondisi lingkungan perairan. Berbagai jenis bentuk pertumbuhan karang dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, hydrodinamis (gelombang dan arus), ketersediaan bahan makanan, sedimen, subareal exposure dan faktor genetik. Berdasarkan bentuk pertumbuhannya karang batu terbagi atas karang Acropora dan non-Acropora (English et.al., 1994). Perbedaan Acropora dengan non-Acropora terletak pada struktur skeletonnya. Acropora memiliki bagian yang disebut axial koralit dan radial koralit, sedangkan non-Acropora hanya memiliki radial koralit.

     

    Bentuk Pertumbuhan Karang non-Acropora terdiri atas:  
    • Bentuk Bercabang (branching), memiliki cabang lebih panjang daripada diameter yang dimiliki, banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan bagian atas lereng, terutama yang terlindungi atau setengah terbuka. Bersifat banyak memberikan tempat perlindungan bagi ikan dan invertebrata tertentu.

    Coral Branching
    • Bentuk Padat (massive), dengan ukuran bervariasi serta beberapa bentuk seperti bongkahan batu. Permukaan karang ini halus dan padat, biasanya ditemukan di sepanjang tepi terumbu karang dan bagian atas lereng terumbu.
    Coral Massive
    • Bentuk Kerak (encrusting), tumbuh menyerupai dasar terumbu dengan permukaan yang kasar dan keras serta berlubang-lubang kecil, banyak terdapat pada lokasi yang terbuka dan berbatu-batu, terutama mendominasi sepanjang tepi lereng terumbu. Bersifat memberikan tempat berlindung untuk hewan-hewan kecil yang sebagian tubuhnya tertutup cangkang.
    Coral Encrusting
    • Bentuk lembaran (foliose), merupakan lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan atau melingkar, terutama pada lereng terumbu dan daerah-daerah yang terlindung. Bersifat memberikan perlindungan bagi ikan dan hewan lain.
    Coral Foliose
    • Bentuk Jamur (mushroom), berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak tonjolan seperti punggung bukit beralur dari tepi hingga pusat mulut.
    Coral Mushroom
      • Bentuk submasif (submassive), bentuk kokoh dengan tonjolan-tonjolan atau kolom-kolom kecil.
      Coral Submassive
      • Karang biru (Heliopora), dapat dikenali dengan adanya warna biru pada rangkanya.
      Coral Heliopora
      • Karang api (Millepora), semua jenis karang api yang dapat dikenali dengan adanya warna kuning di ujung koloni dan rasa panas seperti terbakar bila disentuh.
      Coral Milleopora

      Bentuk Pertumbuhan Karang Acropora terdiri atas:

        • Acropora bentuk cabang (Branching Acropora), bentuk bercabang seperti ranting pohon.
        Branching Acropora
        • Acropora meja (Tabulate Acropora), bentuk bercabang dengan arah mendatar dan rata seperti meja. Karang ini ditopang dengan batang yang berpusat atau bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar.
        Tabulate Acropora
        • Acropora merayap (Encursting Acropora), bentuk merayap, biasanya terjadi pada Acropora yang belum sempurna.
        Encrusting Acropora
        • Acropora Submasif (Submassive Acropora), percabangan bentuk gada/lempeng dan kokoh.

        Submassive Acropora
        • Acropora berjari (Digitate Acropora), bentuk percabangan rapat dengan cabang seperti jari-jari tangan
        Digitate Acropora

        Faktor yang Memengaruhi Bentuk Pertumbuhan
         
        Jenis karang yang dominan di suatu habitat tergantung pada kondisi lingkungan atau habitat tempat karang itu hidup. Pada suatu habitat, jenis karang yang hidup dapat didominasi oleh suatu jenis karang tertentu. Pada daerah rataan terumbu biasanya didominasi karang-karang kecil yang umumnya berbentuk masif dan submasif. Lereng terumbu biasanya ditumbuhi oleh karang-karang bercabang. Karang masif lebih banyak tumbuh di terumbu terluar dengan perairan berarus.


        Gelombang berpengaruh terhadap perubahan bentuk koloni terumbu. Karang yang hidup di daerah terlindung dari gelombang (leeward zones) memiliki bentuk percabangan ramping dan memanjang, berbeda pada gelombang yang kuat (windward zones) kecenderungan pertumbuhan berbentuk percabangan pendek, kuat, merayap atau submasif. Secara umum ada empat faktor dominan yang mempengaruhi bentuk pertumbuhan, yaitu cahaya, tekanan hidrodinamis (gelombang dan arus), sedimen dan subareal exposure.

        Perbedaan bentuk pertumbuhan karang tersebut pada akhirnya dijadikan su atu acuan untuk melihat penutupan karang di satu wilayah. Telah dikembangkan beberapa metode pengamatan terumbu karang yang didasarkan pada bentuk pertumbuhan seperti transek menyinggung (Line Intercept Transect), Point Transect dan lain-lain.

        Faktor-Faktor Lingkungan yang Memengaruhi Perkembangan Ekosistem Terumbu Karang

        Suhu
        Secara global, sebarang terumbu karang dunia dibatasi oleh permukaan laut yang isoterm pada suhu 20 °C, dan tidak ada terumbu karang yang berkembang di bawah suhu 18 °C. Terumbu karang tumbuh dan berkembang optimal pada perairan bersuhu rata-rata tahunan 23-25 °C, dan dapat menoleransi suhu sampai dengan 36-40 °C.

        Salinitas
        Terumbu karang hanya dapat hidup di perairan laut dengan salinitas air yang tetap di atas 30 ‰ tetapi di bawah 35 ‰ Umumnya terumbu karang tidak berkembang di perairan laut yang mendapat limpasan air tawar teratur dari sungai besar, karena hal itu berarti penurunan salinitas. Contohnya di delta sungai Brantas (Jawa Timur). Di sisi lain, terumbu karang dapat berkembang di wilayah bersalinitas tinggi seperti Teluk Persia yang salinitasnya 42 %.

        Cahaya dan Kedalaman
        Kedua faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh zooxantellae yang terdapat di jaringan karang. Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.

        Kecerahan
        Faktor ini berhubungan dengan penetrasi cahaya.Kecerahan perairan tinggi berarti penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi pula.

        Gelombang
        Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami.

        Arus
        Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.

        Sedimen
        Karang umumnya tidak tahan terhadap sedimen. Karena sedimen merupakan faktor pembatas yang potensial bagi sebaran karang di daerah dimana suhu cocok untuk hewan ini.

        Demikian artikel mengenai Bentuk Terumbu Karang dan Faktor Pertumbuhannya, semoga bermanfaat.
        Share:

        Sabtu, 11 April 2015

        Formasi Terumbu Karang

        Formasi Terumbu Karang| Indosesia sebagai negara kepulauan terbesar dan memiliki lautan yang luas membuat negara Indonesia memiliki kekayaan laut dan keanekaragaman hayati yang besar, kekayaan ini dapat dilihat melalui ekosistem lautan yang ada di Indonesia, salah satunya adalah ekosistem terumbu karang, ekosistem terumbu karang memiliki formasi-formasi tertentu. Formasi terumbu karang mengikuti topografi yang dibentuk oleh proses geologi alam. Pemahaman mengenai formasi terumbu karang memberikan informasi kecenderungan bentuk pertumbuhan yang mendominasi suatu zona dengan memperhatikan faktor jarak ekosistem terhadap daratan (pulau) ataupun terhadap laut lepas. Charles Darwin (1842) mengemukakan tiga perbedaaan formasi yang dikenal dengan teori penenggelaman (Subsidence Theory). 

        • Terumbu Karang Tepi (Fringing Reefs), yaitu terumbu karang yang terdapat di sepanjang pantai yang dalamnya tidak lebih dari 40 meter. Terumbu ini tumbuh ke permukaan dan ka arah laut terbuka. Terumbu karang tepi atau karang penerus berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Contoh di Indonesia: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).
        Contoh Terumbu Karang Tepi (fringing reef)
        • Terumbu karang penghalang (Barrier Reefs), berada jauh dari pantai yang dipisahkan oleh goba (lagoon) dengan kedalaman 40-70 meter. Umumnya terumbu karang ini memanjang menyusuri pantai. Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0.52 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer.Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Contoh di Indonesia: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah).
        Contoh Terumbu Karang Penghalang (Barrier Reefs)

        • Atol (atolls), yang merupakan karang berbentuk melingkar seperti cincin yang muncul dari perairan yang dalam, jauh dari daratan dan melingkari gobah yang memiliki terumbu gobah atau terumbu. Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau-pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan. 
        Contoh Terumbu Karang Cincin (Atolls)
        Darwin mengemukakan bahwa formasi awal merupakan fringing reefs yang terbentuk di sekitar pulau. Jika pulau tersebut mengalami penurunan permukaan secara tektonik, fringing reefs akan berubah menjadi barrier Reefs. Apabila proses terus berlanjut, maka atolls akan terbentuk. Namun sebagai bahan pemikiran, Daly juga mengemukakan teory bahwa proses penurunan permukaan pulau tidak terjadi melainkan yang terjadi adalah penaikan permukaan. Pada proses penaikan permukaan terus terjadi sehingga daratan (pulau) lambat laun akan menghilang sehingga pada akhirnya membentuk atolls.

        Demikian artikel mengenai FormasiTerumbu Karang beserta contohnya di Indonesia, semoga bermanfaat. Pada artikel selanjutnya akan dibahas mengenai bentuk pertumbuhan terumbu karang dan faktor yang memengaruhinya.
        Share:

        Ekosistem Terumbu Karang

        Ekosistem Terumbu Karang| Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu karang ini pada umumnya hidup lebih dari 300 jenis karang, yang terdiri dari sekitar 200 jenis ikan dan berpuluh-puluh jenis moluska, crustacean, sponge, alga, lamun dan biota lainnya (Dahuri, 2000). Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
         
        Ekosistem terumbu karang penyusun utamanya adalah Binatang karang. Binatang karang yang berukuran sangat kecil, disebut polip, yang dalam jumlah ribuan membentuk koloni yang dikenal sebagai karang (karang batu atau karang lunak). Dalam peristilahan ‘terumbu karang’, “karang” yang dimaksud adalah koral, koral adalah sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu, sedangkan Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang. Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Di dalam terumbu karang, koral adalah insinyur ekosistemnya. Sebagai hewan yang menghasilkan kapur untuk kerangka tubuhnya, karang merupakan komponen yang terpenting dari ekosistem tersebut. Jadi Terumbu karang (coral reefs) merupakan ekosistem laut tropis yang terdapat di perairan dangkal yang jernih, hangat (lebih dari 22oC), memiliki kadar CaCO3 (Kalsium Karbonat) tinggi, dan komunitasnya didominasi berbagai jenis hewan karang keras. (Guilcher, 1988).

        Berdasarkan jenisnya Terumbu karang dibedakan menjadi dua tipe, yaitu Terumbu karang keras dan terumbu karang lunak. Terumbu karang keras (seperti brain coral dan elkhorn coral) merupakan karang batu kapur yang keras yang membentuk terumbu karang. Karang batu ini menjadi pembentuk utama ekosistem terumbu karang. Walaupun terlihat sangat kuat dan kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh, mudah hancur dan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Terumbu karang lunak (seperti sea fingers dan sea whips) tidak membentuk karang. Terdapat beberapa tipe terumbu karang yaitu terumbu karang yang tumbuh di sepanjang pantai di continental shelf yang biasa disebut sebagai fringing reef, terumbu karang yang tumbuh sejajar pantai tapi agak lebih jauh ke luar (biasanya dipisahkan oleh sebuah laguna) yang biasa disebut sebagai barrier reef dan terumbu karang yang menyerupai cincin di sekitar pulau vulkanik yang disebut coral atoll.

        Pembentukan terumbu karang merupakan proses yang lama dan kompleks. Berkaitan dengan pembentukan terumbu, karang terbagi atas dua kelompok yaitu karang yang membentuk terumbu (karang hermatipik) dan karang yang tidak dapat membentuk terumbu (karang ahermatipik). Kelompok pertama dalam prosesnya bersimbiosis dengan zooxanthellae dan membutuhkan sinar matahari untuk membentuk bangunan dari kapur yang kemudian dikenal reef building corals, sedangkan kelompok kedua tidak dapat membentuk bangunan kapur sehingga dikenal dengan non–reef building corals yang secara normal hidupnya tidak tergantung pada sinar matahari (Veron dalam Supriharyono. 2000: 1).

        Pembentukan terumbu karang hermatipik dimulai adanya individu karang (polip) yang dapat hidup berkelompok (koloni) ataupun menyendiri (soliter). Karang yang hidup berkoloni membangun rangka kapur dengan berbagai bentuk, sedangkan karang yang hidup sendiri hanya membangun satu bentuk rangka kapur. Gabungan beberapa bentuk rangka kapur tersebut disebut terumbu. (Supriharyono. 2000: 1)

        Demikian artikel mengenai Ekosistem Terumbu Karang, semoga bermanfaat. Bersambung ke artikel selanjutnya "Formasi Terumbu Karang"
        Share:

        Definition List

        Unordered List

        Support