Blog buat belajar

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Laut Dalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laut Dalam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2015

Ancaman dan Upaya Pelestarian Ekosistem Laut Dalam

Ancaman Terhadap Ekosistem Laut Dalam
1. Semakin meningkatnya penebangan hutan dan jeleknya pengelolaan lahan di darat.
  • Penebangan hutan dan pengelolaan lahan darat yang jelek dapat meningkatkan sedimentasi di wilayah estuaria. Laju sedimentasi di wilayah pesisir yang melalui aliran sungai bisa dijadikan sebagai salah satu indikator kecepatan proses kerusakan pada wilayah lahan atas, sehingga dapat menggambarkan kondisi pada wilayah lahan atas. Sedimen yang tersuspensi masuk perairan pantai dapat membahayakan biota laut, karena dapat menutupi tubuh biota laut terutama bentos yang hidup di dasar perairan seperti rumput laut, terumbu karang dan organisme lainnya. Meningkatnya kekeruhan akan menghalangi penetrasi cahaya yang digunakan oleh orgnisme untuk pemapasan atau berfotosintesis. Banyak-nya sedimen yang akhirnya terhenti atau terendapkan di muara sungai dapat mengubah luas wilayah pesisir secara keseluruhan, seperti terjadinya perubahan garis pantai, berubahnya mulut muara sungai, terbentuknya delta baru atau tanah timbul, menurunnya kualitas perairan dan biota-biota di muara sungai.
2. Terbunuhnya organisme laut dalam akibat limbah industri dan pencemaran air laut.
  • Sejumlah besar pabrik dibangun dekat sungai sehingga pemiliknya dapat membuang limbah langsung ke air. Hal ini dapat membunuh kehidupan liar yang terdapat di air tawar, berikutnya tumbuhan serta binatang - binatang laut. Bocornya tankker minyak atau kecelakaan laut dapat mengakibatkan tumpahnya minyak. Minyak ini selain meracuni makhluk hidup juga menghilangkan daya insulasi dan daya apung makhluk tersebut, sehingga mereka mati akibat hypothermia atau tenggelam. Kpal kapal tangker minyak biasanya dengan sengaja membuang muatan mereka ke laut.
  • Pestisida dari pertanian meresap ke sistem perairan. Akibatnya, zat-zat kimia beracun membunuh organisme-organisme serta berakumulasi di dalam sistem rantai makanan, sehingga mempengaruhi daya reproduksi binatang-binatang yang ada di dalamnya
3. Pola pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tidak memperhatikan daya dukung produktifitas pada suatu kawasan estuaria.
  • Pola pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang tidak memperhatikan daya dukung produktifitas pada suatu kawasan estuaria seperti sumberdaya perikanan, sehingga kawasan muara sungai tersebut terus mendapat tekanan dan menyebabkan menurunnya produktifitasnya

4. Meningkatnya pembangunan di lahan atas (up-land) menjadi kawasan Industri, pemukiman, pertanian. 
  • Meningkatnya pembangunan di lahan atas (up-land) menjadi kawasan Industri, pemukiman, pertanian akan menjadikan sumber limbah yang bersama-sama dengan aliran sungai akan memperburuk kondisi wilayah estuaria. Lebih dan 80% bahan pencemar yang ditemukan di wilayah pesisir dan laut berasal dari kegiatan manusia di darat (UNEP :1990).
5. Kegiatan-kegiatan kontruksi yang berkaitan dengan usaha pertanian.
  • seperti pembuatan saluran irigasi, drainase dan penebangan hutan akan mengganggu pola aliran alami daerah tersebut. Gangguan ini meliputi aspek kualitas, volume, dan debit air. Pengurangan debit air yang di alirkan bagi irigasi, dapat mengubah salinitas dan pola sirkulasi air di daerah estuaria danmenyebabkan jangkauan intrusi garam semakin jauh ke hulu sungai. Hal ini akan mengakibatkan perubahan pada sebagian ekosistem perairan pantai itu sendiri, juga pada ekosistem daratan di sekitar perairan tersebut sehingga berakibat intrusi air laut pada air tanah.

Upaya Pelestarian Ekosistem Laut Dalam

1. Memperbaiki Daerah Lahan Atas (up-land)

  • Upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi dampak kerusakan pada ekosistem perairan wilayah estuaria yaitu dengan menata kembali sistem pengelolaan daerah atas. Khususnya penggunaan lahan pada wilayah daratan yang memiliki sungai. Jeleknya pengelolaan lahan atas sudah dapat dipastikan akan merusak ekosistem yang ada di perairan pantai. Oleh karena itu, pembangunan lahan atas harus memperhitungkan dan mempertimbangkan penggunaan lahan yang ada di wilayah pesisir. Jika penggunaan lahan wilayah pesisir sebagai lahan perikanan tangkap, budidaya atau konservasi maka penggunaan lahan atas harus bersifat konservatif. Perairan pesisir yang penggunaan lahannya sebagai lahan budidaya yang memerlukan kualitas perairan yang baik maka penggunaan lahan atas tidak diperkenankan adanya industri yang memproduksi bahan yang dapat menimbulkan pencemaran atau limbah. Limbah sebelum dibuang ke sungai harus melalui pengolahan terlebih dahulu sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan.

2. Pemanfaatan Sumberdaya Perairan Secara Optimal

  • Wilayah estuaria yang berfungsi sebagai penyedia habitat sejumlah spesies untuk berlindung dan mencari makan serta tempat reproduksi dan tumbuh, oleh karenanya di dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan khususnya di wilayah estuaria diperlukan tindakan-tindakan yang bijaksana yang berorientasi pemanfaatan secara optimal dan lestari. Pola pemanfatan sebaiknya memperhatikan daya dukung lingkungan (carrying capacity).

Share:

Potensi Laut Dalam

Rumah-rumah binatang karang yang terdapat di laut dalam akan membentuk Gosong Karang, yaitu dataran di pantai yang terdiri dari batu karang. Selain Gosong Karang ada juga Atol, yaitu pulau karang yang berbentuk cincin atau bulan sabit. Batu-batu karang yang dihasilkan oleh bentos dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, rekreasi, sebagai bahan bangunan dan lain-lain. Sedangkan zat kimia yang terkandung dalam tubuh bentos bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk permbuatan obat dan kosmetika.
Mahkluk-makhluk di lautan amat menarik perhatian para peneliti. Banyak yang tidak memiliki senjata, semacam gigi yang kuat atau panser pelindung seperti pada kura-kura. Kelihatannya makhluk hidup di lautan ini dipasrahkan begitu saja kepada pemangsa. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, banyak makhluk hidup di lautan yang kelihatannya tidak berdaya, memiliki sistem pertahanan yang cukup ampuh. Dengan memproduksi bahan kimia atau racun tertentu, makhluk hidup semacam ganggang, keong laut, spons, kerang atau terumbu karang, dapat mempertahankan diri secara efektif. Sejauh ini, para peneliti sudah meneliti lebih dari 10.000 jenis unsur bio-aktif dari biota laut. Banyak yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuat obat. Misalnya saja unsur aktif Aciclovir yang berasal dari sejenis spons, yang kini secara luas digunakan sebagai obat herpes. Aciclovir termasuk kelompok unsur aktif Nukleosid-Analog, yang bekerja menon-aktifkan polymerase DNA virus herpes. Atau unsur aktif Pseudo-pterosin yang berasal dari sejenis terumbu karang, kini unsur aktifnya secara luas digunakan sebagai krim pelindung kulit, untuk mengurangi pembengkakan akibat sengatan matahari. (http://www.kelas-mikrokontrol.com/jurnal/iptek/bagian-4/mencari-obat-di-lautan.html)

Laut dalam ternyata menyimpan kekayaan emas. Menurut para ahli, konsentrasi emas di dalam air laut adalah 0,00005 bpj (bagian per juta). Satu bpj (bagian per juta) dalam hal ini adalah 1 miligram benda padat yang larut dalam 1 liter air.

Jika konsentrasi emas di dalam air laut adalah 0,00005 bpj berarti di dalam setiap 1 liter air laut terdapat 0,00005 mg emas. Sepintas lalu kelihatannya memang sangat sedikit, namun jika kita hitung berapa emas yang terkandung di dalam 1 km3 (kilometer kubik) air laut:
Satu kilometer kubik sama dengan 1.000.000.000.000 liter atau 1012 liter, jadi di dalam satu kilometer kubik air laut terdapat:

1012 liter x 0,00005 mg :1 liter x 1 gram :1000 mg = 50.000 gram emas atau 50 kilogram emas.

Jika harga emas sekarang kira-kira adalah Rp 300.000,- per gram maka 50 kilogram emas adalah 15 milyar rupiah. Sebuah jumlah rupiah yang fantastis! Nah, itu baru nilai rupiah dari emas yang terkandung dalam 1 kilometer kubik air laut padahal di planet kita tercinta ini terdapat kira-kira 1,3 milyar kilometer kubik air laut. Begitu besarnya nilai ekonomi dari emas yang terkandung di dalam air laut di planet bumi ini.
(http://pikiran-segar.blogspot.com/2013/08/emas-dapat-ditemukan-dalam-air-laut.html)

Laut Indonesia memiliki potensi besar dalam menyerap karbon. Sebesar 46,6 persen fungsi penyerapan karbon (CO2) oleh lautan dunia, dimiliki Indonesia. Potensi ini seharusnya bisa dilirik, sebagai sumber devisa negara dalam penjualan karbon, format Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM).



Langit biru di kepala kita, ternyata menyimpan bencana. Jutaan kilo jenis karbon mengambang, mengumpul, bersatu dan menyekap bumi seperti di dalam rumah kaca. Tersekap di dalam rumah kaca, jelas akan makin meningkatkan panas suhu bumi. Efeknya terjadi kemudian, salju Kilimanjaro melumer, berbagai flora dan fauna yang tak tahan dengan hawa panas terbunuh, serta perubahan iklim dan cuaca yang merugikan.

Bencana ini sendiri sebenarnya berasal dari tangan manusia sendiri. Dimana karbon yang ada, sebetulnya berasal dari sisa emisi energi fosil yang dipakai manusia. Pemakaian bensin dan solar pada kendaraan, pembuangan emisi dari pabrik-pabrik, merupakan beberapa contoh aktifitas penggunaan energi fosil. Berbagai cara kemudian dilakukan untuk mengurangi hal ini. Termasuk didalamnya, memberikan bantuan dana melalui pembelian karbon, dari negara-negara yang memiliki sumber daya untuk penyerapan karbon kembali ke bumi.

Indonesia sebagai salah satu penanda tangan kesepakatan internasional, yang disebut Protokol Kyoto tersebut, jelas memiliki keuntungan. Karena ternyata negeri kita masih memiliki berbagai potensi sumber daya alam penyerap karbon. Selain hutan, potensi sumber daya penyerap karbon merupakan lautan. Hal ini pernah dijelaskan Anugrah Nontji, peneliti LIPI bidang oseanografi dalam bukunya yang berjudul ‘Tiada Kehidupan di Bumi Tanpa Keberadaan Fitoplankton’. Menurut Nontji, lautan memiliki fitoplankton, yang seperti halnya tumbuhan darat, juga memiliki kemampuan untuk berfotosintesis. Dalam proses fotosintesis tersebut, karbon dikonsumsi oleh fitoplankton untuk menghasilkan senyawa organik lain yang menjadi dasar kehidupan bagi hampir semua mahluk hidup di dunia. Dengan dasar tersebut, dapat dikatakan lautan kita yang berluas hingga 3.288.680 kilometer persegi, sebenarnya berpotensi untuk menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah sangat penting.
Potensi tersebut kemudian terbukti dari riset yang dilakukan Dr Armi Sudandi, peneliti pada bidang meteorologi ITB. “Kami melakukan riset terhadap dua skenario prediksi penyerapan karbon oleh lautan Indonesia,” ujarnya, ketika dihubungi di Bandung, Januari 2007 lalu. Pada dua skenario tersebut, urai Armi, menunjukan prediksi akan terjadi peningkatan penyerapan karbon di laut Indonesia hingga tahun 2050. “Kemudian mengalami penurunan kemampuan penyerapannya dari tahun 2060 hingga tahun 2100,” paparnya.

Angka cakupan penyerapan karbon oleh lautan Indonesia tertera cukup mencengangkan. Dari total penyerapan karbon dari seluruh lautan dunia, ternyata Indonesia mampu mengambil peran sebanyak 46,6 persen. Penelitian itu sendiri, dilakukan pada seluruh titik arah lautan di Indonesia. Dengan menggunakan berbagai data seperti angin, suhu permukaan laut (SST), salinitas permukaan laut (SSS), distribusi suhu serta data konsentrasi karbon.

Jelas ini bak harta karun yang tersimpan rapi. Namun sayangnya potensi itu bisa saja berkurang, atau bahkan hilang sama sekali. Bila kita tak mampu memelihara ekosistem lautan. Polusi dan limbah dari daratan, juga bisa membunuh hewan renik terkecil di lautan ini. Kematiannya jelas merusak ekosistem perairan lautan. Karena banyak satwa laut sebenarnya membutuhkan keberadaannya.

Demikian artikel mengenai potensi laut dalam, semoga bermanfaat.
Share:

Organisme Ekosistem Laut Dalam

Organisme–organisme laut dalam menunjukan adaptasinya terhadap karakteristik laut dalam (bertekanan besar, sushu ekstrem, langkanya makan, suasana gelap gulita). Contoh adaptasi – adaptasi tersebut dapat kita lihat dari contoh organisme yang hidup pada laut dalam antara lain :
1. Viperfish

Viperfish (ditemukan di zona mesopelagik pada kedalaman 80 – 1600 meter) merupakan ikan yang terlihat seperti monster laut yang kejam. Beberapa dari mereka berwarna hitam saat malam dengan organ cahaya (yang disebut dengan photophores). Fotofor terletak pada salah satu tempat strategis pada tubuhnya. Beberapa viperfish dan banyak spesies ikan laut dalam lainnya tidak memiliki pigmen sehingga semua nya transparan. Mereka juga memiliki mata yang besar untuk mengumpulkan cahaya dari daerah yang sangan minim cahaya. Organ penghasil cahaya dari hewan laut mengahsilkan cahaya karena bioluminescen.

Viperfish

2. Fangtooth

Fangtooth atau Anoplogaster cornuta hidup pada kedalaman 16 feet . Meskipun terlihat seperti monster, hanya tumbuh sampai 6 inchi panjangnya, memiliki body yang pensek dan kepala yang besar. Anoplogaster cornuta disebut juga fangtooth karena memiliki taringyang panjang , tajam , serta ggi – gigi lain yang menyerupai taring dalam jumlah yang banyak dan mulut yang besar.

Warna dari fangtooth dewasa berkisar antara coklat gelap hingga hitam. Sedangkan fangtooth muda berwarna abu –abu cerah. Tekanan pada kedalaman 16 feet sangat lah tinggi , air juga hampir membeku, makanan juga sangat langka sehingga fangtooth akan memakan apa saja yang dapat ia temukan. Fangtooth ditemukan hampir ditemukan di seluruh laut dalam di dunia termasuk di daerah tropis.


Fangtootth

3. Dragonfish

Ikan naga ( dragonfish ) atau Grammatostomias flagellibarba,adalah predator buas meskipun berukuran kecil. Dragonfish memiliki kepala yang besar , mulut yang dilengkapi dengan gigi yang menyerupai taring yang tajam. Ikan ini mampu tumbuh hingga panjangnya 6 inchi. Ikan naga (dragonfish) memiliki photophores di sepanjang sisi tubuhnya. Organ penghasil cahaya inilah yng digunakan sebagai tanda kepada dragonfish lainnya selama kawin selain itu digunakan pula untuk menarik perhatian mengsanya. Dragonfish hidup pada kedalaman 5000 feet (1500) meter dan ditemukan pada laut tropis.

Dragonfish

4. Angler (Melanocetus johnsoni)

Angler atau Melanocetus johnsoni, memiliki badan yang berbentuk seperti bola basket.  Melanocetus johnsoni memiliki mulut yang lebar dengan gigi yang menyerupai taring yang tajam. Melanocetus johnsoni hanya tumbuh hingga panjang 5 inchi. Melanocetus johnsoni diberi julukan angler karena ikan tersebutmemiliki tulang belakang yang panjang dan pada ujungnya terdapat photophores ( yang memproduksi cahaya ). Fakta yang aneh dari ikan ini adalah bahwa ikan yang jantan lebih kecil dari ikan betina dan memiliki gigi kait yang kecil yang digunakan untuk menempel pada ikan betina. Ketika menempel maka pembuluh darah ikan jantan akan menyatu dengan pembuluh darah ikan betina. Ikan jantan seperti parasit, karena mendapat seluruh nutrisi nya dari ikan betina. Apabila ikan jantan tidak mampu menempel pada betina maka ia akan mati kelaparan. Melanocetus johnsoni ditemukan pada kedalaman lebih dari 3000 feet.

Angler (Melanocetus johnsoni)

5. Gulper Eel (Eurypharynx pelecanoides)

Gulper Eel atau nama latinnya Eurypharynx pelecanoides merupakan salah satu makhluk teraneh yang hidup di laut dalam. Mulut dari ikan ini sangat lebar sehingga dapat memangsa hewan yang lebih besar dari nya. Perut iakn ini juga dapat meregang untuk mengakomodasi makanan yang besar.Selain itu Eurypharynx pelecanoides juga memiliki ekor yang panjang . Ikan jenis ini ditemukan hampir di seluruh laut di dunia pada kedalaman 3000- 6000 kaki

Eurypharynx pelecanoides

6. Architeuthis dux

Architeuthis dux, merupakan salah satu dari hewan terbesar di bumi dengan panjang mencapa 60 kaki sehingga Architeuthis dux sekaligus menjadi avertebrata terbesar di dunia. Architeuthis dux masuk ke dalam kelas cephalopoda filum molluska dan merupakan hewan karnivora ( ikan memakan apa saja yang dapat ditangkap ).

Architeuthis dux

7. Harriotta raleighana

Harriotta raleighana dapat mencapai 5 feet panjangnya. Ikan jenis memiliki belati kecil seperti hidung yang mengingatkan pada salah satu kontur hidung pesawat jet supersonik. Harriotta raleighana memiliki racun pada bagian pertama tulang belakangnya yang dapat membunuh manusia. Ikan ini hidup pada kedalaman 8000 kaki.

Harriotta raleighana

8. Coffinfish

B. melanostomus memiliki badan yang lembek dan ekor yang panjang yang ditutupi oleh duri – duri kecil. Spesies ini dapat tumbuh hingga panjang minimal 10 cm. B.melanostomus hidup pada kedalaman 1320 m sampai 1760 m. Nama B.melanostomus diambil dari bahasa yunani melanos yang berarti hitam dan stoma yang berarti mulut.

B. melanostomus

9. Bathynomus giganteus

Isopoda raksasa atau yang di kenal dengan nama ilmiah Bathynomus giganteus merupakan salah satu anggota dari family isopoda Hewan ini dapat mencapai panjang hingga 16 inchi . Bathynomus giganteus merupakan krustasea karnivor yang beradaptasi untuk memakan apasaja yang jatuh dasar laut selain itu ia juga memakan beberapa invertebrate kecil yang hidup pada kedalaman 2000 kaki.

Bathynomus giganteus

10. Vampyroteuthis infernalis

Vampyroteuthis infernalis

Demikian artikel mengenai Organisme Ekosistem Laut Dalam, semoga bermanfaat, jangan lupa join this site dan share artikel-artikelnya.
Share:

Zona-zona Laut Dalam

Zona-zona Laut Dalam| Laut dapat dibagi menjadi dua zona yaitu zona bentik (berasosiasi dengan dasar laut) dan zona pelagik (berasosiasi dengan perairan terbuka). Karena terdapat perbedaan lingkungan fisik antara kedua zona ini, maka asosiasi organisme di zona ini sangat berbeda. Dewasa ini mungkin fauna bentik laut dalam lebih dikenal daripada fauna zona pelagik. 

Zona Laut Dalam


Menurut Nybakken(1988 :129), fauna bentik dapat dibagi menjadi dua yaitu penghuni zona batial di lereng benua dan penghuni zona abisal yang merupakan zona terluas di dasar laut dalam. Para penghuni palung – palung yang sangat dalam menempati suatu zona yang dinamakan zona hadal (ultra abisal ).

Di bagian pelagik sebelah atas terdapat suatu zona yang terletak tepat di bawah zona eufotik. Banyak sekali hewan penghuni zona di bawah zona eufotik ini yang mengadakan migrasi ke zona eufotik pada malam hari. Zona ini dinamakan zona mesopelagik yang dihuni oleh sejum lah besar spesies hewan yang memiliki mata yang telah ber`kembang baik dan berbagai organ penghasil cahaya. Kebanyakan spesies ikan penghuni zona mesopelagik berwarna hitam, sedangkan spesies udang berwarna merah. Karena zona ini lebih mudah dicapai dibandingkan dengan zona – zona lainnya, pengetahuan tentang zona ini juga lebih banyak diketahui. Jumlah organisme penghuni zona mesopelagik rupanya terbanyak ataudi antara zona–zona laut dalam lainnya. Zona ini membentang 700 sampai 1000 m dari batas bawah zona eufotik ke arah dasar perairan. Batas bawah nya bergantung pada lokasi perairan, kecerahan, dan factor–factor lain (Nybakken,1988 :129).

Masih sangat sulit untuk mengadakan zonasi kolom air di bawah zona mesopelagik dan batas bawah palung – palung (di kedalaman sekitar 6000m) di bagi menurut Hedgpeth menjadi 2 zona yaitu (Nybakken,1988 :129) :

a. Zona batipelagik di bagian atas
b. Zona abisal pelagic di bawah zona patipelagik.

Batas antara kedua zona ini sangat tidak jelas dan terdapat bermacam–macam pendapat tentang batas kedua zona ini. Dibandingkan dengan zona mesopelagik jumlah individu maupun spesies pada zona batipelagik dan zona abisal pelagik jauh lebih kecil. Penghuni zona ini cenderung berwarna putih atau tidak berwarna serta memiliki mata dan organ – organ penghasil cahaya yang rendah tingkat perkembangannnya. Kolom air yang ada di dalam suatu palung dinamakan zona hadal pelagik.

Demikian artikel mengenai  Zona-zona Laut Dalam, jangan lupa baca juga artikel-artikel lainnya, jika bermanfaat silahkan share.
Share:

Cara Adaptasi Organisme Ekosistem Laut Dalam

Salah satu pembatas kehidupan organisme laut adalah kedalaman. Kedalaman berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan yang lain seperti makanan, cahaya, tekanan, suhu dan lain-lain, semuanya berpengaruh terhadap kondisi ekologi laut dalam terutama terhadap kehidupan organisme (ikan).

Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Dengan keadaan tanpa adanya cahaya matahari, tekanan tinggi, salinitas tinggi dan faktor – faktor yang terdapat di dalam ekosistem laut dalam ini membuat biota laut dalam tersebut melakukan adaptasi, yakni :
1) Adapasi morfologi

Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Pada biota laut dalam, adaptasi morfologi dapat dilihat dari bentuk tubuh biota laut dalam yang kecil dan pada umumnya bertubuh transparan karena tubuhnya tidak mengandung pigmen. Secara morfologis, senjata pembunuh seperti rahang, tengkorak dan dimensi mulut mengalami perubahan pada organisme laut dalam. Ciri umum mereka adalah mulut yang melebar, rahang yang kuat dan gigi-gigi tajam. Mereka harus seoptimal mungkin mencari mangsa yang jarang di laut dalam. Praktek kanibalisme juga sering terjadi di beberapa spesies.

Bentuk spesies non ikan seperti moluska dan sebangsanya akan adaptif untuk memakan mikroorganisme yang ada. Mereka sulit bersaing dengan ikan yang ganas. Untuk senjata mempertahankan diri, mereka biasanya mampu berkamuflase dengan kondisi sekitar.Satu persamaan dari mereka adalah, evolusi morfologis mengubah bentuk mereka menjadi kecil. Jarang ada organisme yang berdimensi panjang lebih dari 25 cm. Contoh dari hewan-hewan laut yang mampu hidup pada zona ini adalah Phronima, Cumi-cumi, Amoeba, Comb Jelly, Cope pod, dan ikan Hatchet.

      a. Warna
  • Umumnya biota laut dalam bertubuh transparan karena tubuhnya tidak mengandung pigmen. Ikan-ikan mesopelagik khusunya cenderung berwarna abu-abu keperakan atau hitam kelam. Tidak terdapat kontras warna seperti pada ikan-ikan epipelagik. Organisme yang hidup pada zona abisal dan batial sering tidak berwarna atau berwarna putih kotor, dan tampaknya tidak berpigmen ( khususnya hewan – hewan bentik ).
      b. Mata
  • Mata yang besar. Mata yang besar akan memberikan kemampuan maksimum untuk mendeteksi cahaya di dalam laut dalam yang intensitas cahaya nya sangat rendah dan mungkin diperlukan pula untuk dapat mendeteksi cahaya berintensitas rendah yang dihasilkan oleh organ – organ penghasil cahaya. Ikan – ikan pada laut dalam juga memiliki penglihatan senja yang sangat peka karena adanya pigmen rodopsin dan tingginya kepadatan batang retina.
  • Tidak bermata. Pada zona laut dalam yang terdalam lebih dari 2000 m ( abisal pelagic dan hadal pelagic ) ikan – ikan yang hidup disitu memiliki mata yang sangat kecil bahkan tidak bermata karena hidup di lingkungan yang gelap gulita bahkan mata tidak ada guna nya.
  • Mata berbentuk pipa tubuler. Mata ikan ikan dari beberapa family berbentuk silinder pendek berwarna hitam dengan sebuah lensa tembus cahaya berbentuk setengah lingkaran di puncak silinder .tiap mata mempunyai 2 retina ( yang satu di pangkal silinder sedangkan yang lainnya di dinding silinder ). Retina di pangkal silinder fungsinya untuk melihat obyek obyek yang dekat sedang yang terdapat di dinding silinder untuk melihat obyek – obyek yang jauh.
      c. Mulut
  • Ikan laut dalam relatif memiliki ukuran mulut yang besar. Dalam mulutnya terdapat gigi yang tajam dan melengkung ke arah tenggorokan, ini menjamin bahwa apa yang tertangkap tidak akan keluar lagi dari mulut. Mulut dihubungkan dengan tengkorak oleh suatu engsel yang memungkinkan ikan membuka sangat lebar daripada tubuhnya, sehingga memungkinkan untuk menelan mangsa yang lebih besar daripada tubuhnya. Hal tersebut dilakukan sebagai adaptasi terhadap langkanya makanan di laut dalam.
  • ikan Viper (Chauliodus macouni). Ikan Viper (ditemukan di 80-1600 meter – sekitar satu mil di bawah permukaan laut) adalah beberapa ikan yang tampak paling jahat di kedalaman. Mereka juga memiliki mata yang besar, kemungkinan untuk mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin karena cahaya sedikit atau tidak sama sekali. Ahli biologi berspekulasi bahwa gigi yang tampak mengerikan dan rahang merupakan adaptasi untuk hidup di lingkungan rendah energi dari laut dalam. Makanan sangat langka di lingkungan yang tidak ramah, sehingga ikan yang tinggal di sini telah mengembangkan rahang yang sangat mematikan untuk memastikan bahwa mangsa mereka tangkap di rahang mereka tidak memiliki cara untuk melarikan diri. (photo courtesy of Paul Yancey, Biology Dept., Whitman College, Walla Walla Washington)

      d. Giagantisme abisal

  • Kelompok – kelompoak invertebrate tertentu khususnya amfipoda, isopoda, ostrakoda, misid, dan kopepoda berukuran jauh lebih besar daripada kerabat – kerabat mereka yang hidup dalam perairan – perairan yang dangkal. Keadaan dimana ukuran membesar dengan meningkatnya kedalaman . Hewan yang berukuran besar lebih mobile serta mampu menjelajahi wilayah yang luas dalam mencari pasangan bagi keperluan reproduksi dan memperoleh makanan. Jangka hidup yang panjang juga berarti bahwa periode dewasa seksual juga panjang, sehingga cukup waktu untuk mencari pasangan bagi kepentingan reproduksi.

2) Adaptasi fisiologi

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Di ekosistem laut dalam dapat dikatakan tidak terdapat produser karena tidak adanya sinar matahari yang menyebabkan tidak adanya proses fotosintesis pada ekosistem tersebut, sehingga biota laut dalam melakukan adaptasi fisiologi. Bentuk adaptasi fisiologi biota laut dalam adalah adalah organisme laut dalam mempunyai kapasitas untuk mengolah energi yang jauh lebih efektif dari makhluk hidup di darat dan zona laut atas. Mereka bisa mendaur energinya sendiri dan menentukan seberapa banyak energi yang akan terpakai dengan stok makanan yang didapat.

Kandungan air dalam jaringan tubuh ikan dan krustasea meningkat seiring dengan meningkatnya kedalaman sedangkan kadar lipid dan protein menurun.


3) Adaptasi Tingkah Laku

Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya. Beberapa organisme yang mengalami siklus reproduksi, akan mempunyai perilaku yang unik untuk menarik pasangannya di tengah kegelapan. Mereka akan memendarkan cahaya yang tampak kontras dengan kondisi sekitar yang serba gelap. Dalam ekosistem dasar laut sebisa mungkin mereka dapat memperoleh sumber energi atau makanan agar dapat bertahan hidup, oleh karena itu beberapa ikan yang hidup di ekosistem ini dilengkapi keahlian khusus agar dapat memperbesar kemungkinan mendapatkan mangsa, seperti Ikan Fang Tooth yang memiliki tingkat agresifitas yang tinggi sehingga ketika ada mangsa yang lewat didepannya ia langsung dapat dengan cepat memakannya, karena memang tidak banyak hewan laut yang mampu hidup dalam ekosistem ini.

Kemudian contoh lainnya adalah Ikan Hairyangler yang tubuhnya dipenuhi dengan atena sensitif, antena tersebut sangat sensitif sekali terhadap setiap gerakan, fungsinya untuk mendeteksi mangsa yang ada didekatnya. Di laut dalam sering terlihat cahaya yang berkedip-kedip, cahaya tersebut adalah Bioluminescence.

Bioluminescence adalah cahaya yang dapat dihasilkan oleh beberapa hewan laut. Bioluminescence dihasilkan dari reaksi kimia (senyawa fosfor) yang terjadi pada tubuh makhluk hidup tertentu. Contoh hewan laut yang memendarkan cahaya adalah cumi-cumi, ubur-ubur, gurita, plankton dan lain-lain. Bioluminescence digunakan oleh hewan laut dalam sebagai alat perangkap atau alat untuk menarik mangsa, kurang lebih bioluminescence berfungsi sebagai umpan. Pada umumnya bioluminescence dimiliki oleh setiap hewan laut dalam, baik betina maupun jantan. Namun beberapa diantaranya ada yang hanya dimiliki oleh hewan laut betina. Cahaya bioluminescence yang dihasilkan biasa berwarna biru atau kehijauan, putih, dan merah. Walau sebagian besar bioluminescence digunakan untuk mekanisme bertahan hidup, namun beberapa diantara hewan laut dalam tersebut menggunakan bioluminescence untuk menarik lawan jenisnya.

Organ penghasil cahaya disebut fotofor. Khusus pada ikan dan cumi – cumi, fotofor terdapat dalam jumlah yang besar. Hewan yng memiliki fotofor paling banyak terdapat di bagian atas laut dalam, yaitu zona mesopelagik dan bagian atas zona batipelagik. Di bagian terdalam dari laut dalam jarang ditemukan bioluminesens ( Nybakken,1988 :149 ).

Fungsi fotofor antara lain ( Nybakken,1988 :151 ) :
  • Melumpuhkan sejenak predator . hal ini dapat terjadi karena fotofor menghasilkan suatu cahaya kilat yang menyilaukan
  • Sebagai umpan agar organisme yang dimangsa mendekat sampai jarak jangkau terkaman seekor predator
  • Menerangi daerah sekelilingnya sehingga suatu predator dapat melihat mangsanya.

Secara umum, fungsi bioluminescence menjadi 3 kelompok, yaitu :

1. Pertahanan


Kelompok dinoflagellata, atau yang biasa kita sebut dengan kelompok ubur-ubur, menggunakan emisi cahaya dari enzim green flourecent protein-nya untuk mempertahankan diri dari serangan predator. Beberapa jenis dekapoda, sefalopoda dan ikan menggunakan pendaran cahaya ini sebagai kamuflase untuk sembunyi dari predatornya. Mekanisme pertahanan ini membuat mereka tersamarkan diantara sinar lain di perairan. Pada beberapa hewan darat yang juga mengeluarkan cahaya berpendar ini mekanisme pertahanan dengan menggunakan emisi cahaya disebut aposematisme. Penyamaran dengan menggunakan aposematisme tersebut membuat hewan-hewan tersebut seakanakan beracun untuk dimakan atau tidak enak untuk dimakan sehingga predator akan menghindarinya. Kunang-kunang adalah salah satu hewan yang mengeluarkan cahaya berpendar sebagai aposematisme sehingga predator mengganggap bahwa kunang-kunang tersebut beracun. Beberapa hewan laut nampak enggan untuk memakan zooplankton dikarenakan zooplankton mengeluarkan bioluminescence. Zooplankton tersebut akan mengeluarkan cahayanya saat berada di perut predator, sehingga predator tersebut mudah ditemukan oleh predator lain yang lebih tinggi tingkatannya. Fenomena ini tampak pada udang misid yang memakan dinoflagelata sehingga tubuhnya akan berpendar dan mudah dikenali oleh pemangsa yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu Porichthys notatus.

2. Predasi


Selain sebagai pertahanan, bioluminescence juga digunakan para predator untuk menarik mangsanya. Predator yang menggunakan emisi cahaya sebagai predasi adalah ikan angel dan hiu Isistius brasiliensis. Hiu Isistius brasilensis menggunakan bagian bawah rahangnya untuk menarik mangsanya. Cumi-cumi dan ikan-ikan kecil akan mendekat pada cahaya tersebut karena mengira siluet tersebut adanya penyamaran dari mangsa-mangsa mereka. Setelah mangsa-mangsa tersebut mendekat pada rahang paus tersebut, itu akan lebih mudah bagi paus untuk menangkap mangsanya. Selain pada paus Isistius brasiliensis, paus sperma atau Physeter macrocephalus juga melakukan hal yang sama dalam melakukan predasi.

3. Sinyal Kawin

Beberapa hewan yang mempunyai bioluminescence menggunakan emisi cahayanya sebagai pertahanan dan predasi.

a. Reaksi Gen Bioluminescence

Reaksi bioluminescence pada setiap organisme berbeda-beda, bergantung pada organisme itu sendiri dan enzim yang dikandung dalam reaksi bioluminescence tersebut. Namun secara umum, reaksi bioluminescence melibatkan enzim luciferase dan substrat luciferin yag strukturnya dapat berbeda-beda antara satu organisme dengan organisme lainnya. Berikut dipaparkan reaksi bioluminescence pada beberapa organisme:

      1. Bakteri
  • Reaksi bioluminescence pada bakteri yang menyebabkan bakteri tersebut berpendar adalah sebagai berikut :
  • FMNH2 + RCHO + O2 à FMN + RCOOH + H2O + hv
  • Reaksi yang terjadi bersifat spesifik dan merupakan oksidasi dari senyawa Riboflafin Fosfat (luciferin bakteri) serta rantai panjang aldehida lemak sehingga menghasilkan emisi cahaya hijau-biru yang dikatalis oleh enzim luciferase. Namun selain luciferase, masih ada enzim-enzim lain yang bekerja pada reaksi ini. Enzim-enzim tersebut diatur oleh sebuah operon yang disebut operon lux.
      2. Dinoflagelata
  • Pada Dinoflagelata, substrat luciferin yang bekerja untuk menghasilkan emisi cahaya ini sangat mirip dengan klorofil pada tumbuhan hanya berbeda pada ion metalnya. Struktur luciferin ini juga ditemukan pada sejenis udang yang bergenus euphausiid. Pada pH ± 8, molekul luciferinnya akan berikatan dan dilindungi oleh protein pengikat luciferin. Namun, jika pada pH ±6, enzim luciferin ini akan berubah konformasinya, kemudian sisi aktifnya bebas dan kemudian dihasilkanlah cahaya bioluminescence.
     3. Ostracod
  • Enzim yang dihasilkan pada Ostracod atau sejenis udang-udangan ini bergantung pada makanannya. Beberapa ikan dapat berhenti berpendar jika ia kekurangan makanannya. Sejauh ini substrat luciferin pada sejenis Ostracod ini adalah dari keluarga Cypridina, Vargula, dan beberapa jenis ikan 
Demikian artikel mengenai  Cara Adaptasi Organisme Ekosistem Laut Dalam, semoga bermanfaat. Jangan lupa untuk bergabung dengan follow blog ini.
Share:

Rabu, 15 April 2015

Pengertian Ekosistem Laut Dalam

Laut dalam merupakan daerah yang masih jarang diungkapkan dan dijelajahi. Orang banyak mengeksplorasi ke luar angkasa dari pada ke bawah laut. Itulah sebabnya banyak yang tidak mengetahui keajaiban-keajaiban yang ada di laut dalam. Di tahun 1960, Bathyscaphe Trieste menuju ke dasar dari Palung Mariana dekat Guam, pada kedalaman 35.798 kaki (10.911 m), titik terdalam di bumi. Jika Gunung Everest ditenggelamkan, maka puncaknya akan berada lebih dari satu mil dari permukaan. Pada kedalaman ini, ikan kecil mirip flounder terlihat. Kapal selam penelitian Jepang, Kaiko, adalah satu-satunya yang dapat menjangkau kedalaman ini, dan lalu hilang di tahun 2003.
Hingga tahun 1970, hanya sedikit yang diketahui tentang kemungkinan adanya kehidupan pada laut dalam. Namun penemuan koloni udang dan organisme lainnya di sekitar hydrothermal vents mengubah pandangan itu. Organisme-organisme tersebut hidup dalam keadaan anaerobik dan tanpa cahaya pada keadaan kadar garam yang tinggi dan temperatur 149°C. Mereka menggantungkan hidup mereka pada hidrogen sulfida, yang sangat beracun pada kehidupan di daratan. Penemuan revolusioner tentang kehidupan tanpa cahaya dan oksigen ini meningkatkan kemungkinan akan adanya kehidupan di tempat lain di alam semesta ini.

Laut dalam merupakan semua zona yang terletak di bawah zona eufotik (zona bercahaya) mencakup zona batipelagis, abisal dan hadal (Nontji, 2002). Laut dalam adalah bagian dari lingkungan bahari yang terletak di bawah kedalaman yang dapat diterangi sinar matahari di laut terbuka, dan lebih dalam dari paparan- paparan benua ( >200 m) . Laut dalam diliputi suasana gelap gulita sepanjang tahun (Nybakken, 1988:128). Pada ekosistem laut dalam terdapat komponen biotik serta abiotik. Selain itu terdapat interaksi antara komponen biotik dan abiotik serta aliran energi

Ekosistem didefinisikan sebagai suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik yang saling tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya, atau suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Di dalam ekosistem, terjadi interaksi timbal balik dan saling ketergantungan antara organisme dan lingkungannya, akibatnya akan terjadi siklus materi dan siklus energi. Siklus materi berlangsung antara organisme dan anorganisme, sedangkan siklus energi akan menuju kepada struktur biotik tertentu. Secara umum, matahari merupakan sumber dari semua energi yang ada di permukaan bumi ini. Komponen-komponen pembentuk ekosistem, terdiri dari:
  • Komponen Biotik, merupakan makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan,tumbuhan, dan mikroba.
  • Komponen Abiotik, berupa cahaya matahari, air, oksigen, suhu, iklim, garam,batuan, dan sebagainya.
Ekosistem laut dalam adalah suatu lingkungan ekstrim, suhu rendah, tekanan tinggi. Keanekaragaman kehidupan dasar laut yang ditemukan meliputi jenis karang lunak anthozoan meliputi Mawar Laut (Anemon Laut) dan Koral (Karang), cacing laut polichaeta, kerang-kerangan, udang, kepiting dan aneka mikroba hidup yang berasosiasi dalam habitat disekitar hydrothermal vents. Hydrothernal vents adalah area kebulan asap gelap dari kegiatan vulkanik yang menyemburkan air panas suhu 400 derajat celcius yang kaya mineral, terdapat didasar laut dalam Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia. Komunitas biota itu hidup dari dukungan oleh adanya rantai makanan yang berbasis dari mikroba bakteri yang menggunakan sumber energi kimia secara chemosintesis dari hydrothermal vents.

Laut dalam merupakan ekosistem yang tidak lengkap. Hal ini karena aktivitas organisme yang berperan sebagai produser tergantung pada organisme yang ada di bagian permukaan laut. Organisme dari permukaan yang sudah mati akan dimanfaatkan oleh produser ketika sudah sampai di dasar laut. Fitoplankton yang berperan sebagai produser akan memakan debris (organisme bersel tunggal yang mati di dasar laut).


Demikian artikel Pengertian Ekosistem Laut Dalam, baca juga artikel mengenai Karakteristik Ekosistem Laut Dalam.

Share:

Karakteristik Ekosistem Laut Dalam

Ekosistem laut dalam memiliki perbedaan yang sangat besar dibandingkan ekosistem laut dangkal. Keadaan tersebut juga mempengaruhi biota laut dalam tersebut. Cahaya matahari hampir dikatakan tidak menembus laut dalam sehingga kondisi laut dalam tersebut gelap gulita dan dipastikan hampir tidak ada proses fotosintesis. Organisme yang hidup di perairan ini merupakan organism yang sangat hebat, karena dapat bertahan hidup dengan kadar oksigen yang sangat minim.
1. Tekanan Hidrostastik

Tekanan hidrostatik adalah berat kolom air yang biasa diukur dalam atmosfir (atm). Tekanan hidrostatik dapat digambarkan sebagai berikut:
P = r . g . z
Keterangan :
P = tekanan hidrostatik (tekanan/unit area)
R = densitas air (g/cm3)
g = percepatan gravitasi (980 cm/sec2)
z = kedalaman dibawah permukaan air (cm)

Tekanan hidrostastik menunjukan kisaran yang terbesar dari semua factor lingkungan laut dalam. Tiap kedalaman bertambah 10 meter akan mengakibatkan meningkatnya tekanan hidrostatik sebesar 1 atm. Karena laut dalam memiliki kedalaman berkisar antara beberapa ratus mete sampai lebih dari 10000 m (di palung – palung tertentu), tekanan hidrostatik berkisar antara 20 sampai lebih dari 1000 atm. Sebagian besar laut dalam bertekanan hidrostatik antara 200 sampai 600 atm. (Nybakken,1988 :133).

Pengaruh tekanan hidrostatik terhadap organisme – organisme laut dalam dapat disimpulkan dari beberapa percobaan terhadap suatu kelompok organisme bahari yang dapat dipertahankan setelah ditangkap di laut dalam yaitu bakteri laut dalam. Dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa bakteri laut dalam berhenti tumbuh dan berkembang biak pada tekanan – tekanan hidrostatik yang rendah, dan aktif tumbuh dengan berkembang biak dengan baik pada tekanan – tekanan hidrostatik tinggi, sama dengan tekanan – tekanan hidrostataik pada habitatnya (Nybakken,1988 :133).

Penelitian dari Siebenaller dan Somero menunjukan bahwa perbedaan tekanan hidrostatik sebesar 100 atm atau bahkan lebih kecil, dapat mengubah sifat – sifat fungsional enzim – enzim – enzim yaitu dapat mengubah kemampuan enzim – enzim untuk mengikat substrat yang tepat dan merubah kecepatan reaksi pengikatan ini( Nybakken,1988 :135).

Penelitian bahkan telah membuktikan bahwa tekanan sangat mempengaruhi morfologi sel, termasuk kemampuan membentuk kumparan mitotic dan melangsungkan mitosis. Bukti – bukti yang diperoleh melalui berbagai percobaan membuktikan dengan menggunakan bermacam-macam hewan laut dalam sangat dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik dan bahwa tekanan hidrostastik mungkin sangat penting dalam menentukan pola distribusi hewan laut dalam( Nybakken,1988 :136).

2. Salinitas

Secara sederhana, salinitas diartikan sebagai jumlah dari seluruh garam-garam dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktik, sangat sukar untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Di laut dalam, salinitas umumnya seragam (35 ppm) pada daerah cold hydrocarbonseeps (hipersain = 40 permil).

Faktor – faktor yang mempengaruhi salinitas :
  1. Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
  2. Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi.
  3. Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara konstan terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5° – 40° LU atau 23,5 - 40°LS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat tingginya aktifitas evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara tetap terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibat tingginya presipitasi (curah hujan).

3. Suhu

Menurut Nybakken (1988 :136), termoklin merupakan daerah dimana suhu air cepat berubah dengan berubahnya kedalaman laut ialah suatu daerah peralihan yang terletak antara masa air permukaan dengan masa air dalam. Tebal termoklin berkisar antara beberapa ratus meter sampai hampir 1 kilometer. Semakin dalam suhu semakin turun, tetapi laju perubahannya lebih lambat daripada daerah termoklin. Pada kedalaman 3000 – 4000 m, massa air dapat dikatakan isothermal Dengan kata lain suhu tidak berubah – ubah untuk jangka waktu yang panjang. (tidak terdapat perubahan – perubahan suhu musiman maupun tahunan).

Keadaan suhu air laut dipengaruhi oleh penetrasi cahaya yang mampu menembus kedalaman laut. Semakin dalam laut maka suhu semakin rendah karena ketidak mampuan penetrasi cahaya matahari hingga ke laut dalam. Di laut yang sangat dalam, suhu umumnya seragam dengan kisaran 1–30C (kecuali wilayah hydrothermal vents (lebih dari 80oC) dan cold hydrocarbon seeps (kurang dari 1oC)

4. Sirkulasi Air

Sirkulasi air di laut dalam Sangat lamban (kurang dari 5 cm/detik), tergantung pada bentuk dan topografi dasar laut. Sikulasi air dan ventilasi dalam palung sangat menentukan kadar oksigen di laut dalam.

5. Kadar Oksigen

Hal yang aneh pada kadar oksigen di laut dalam adalah adanya suatu zona oksigen minimum yang terletak antara kedalaman 500 m dan 1000 m. Di bawah maupun di atas zona ini, kadar oksigen lebih tinggi. Dalam zona oksigen minimum, kadar oksigen mungkin kurang dari 0,5ml/liter. Zona oksigen minimum terjadi di kedalaman antara 500 dan 1000 m, dimana pada kedalaman tersebut kepadatan organisme cukup tinggi. Di kedalaman kurang dari 500 m, kadar oksigen cukup tinggi sekalipun biomasa organisme tinggi, karena adanya cadangan oksigen dari atmosfer dan hasil samping fotosintesis fitoplankton ( Nybakken ,1988 :136)

6. Ketersediaan Sumber Makanan

Letak laut dalam yang jauh dari zona fotosintetik dan di dalamnya tidak berlangsung produksi primer, kecuali di daerah - daerah tertentu dimana terdapat bakteri kemiosmotik. Karena populasi organisme di lapisan atas laut dalam sangat padat, sangat kecil kemungkinan bahwa masih adanya makanan yang tenggelam hingga mencapai laut dalam. Langkanya pakan di laut dalam mungkin merupakan penyebab rendahnya kepadatan organisme penghuni laut dalam. Tanpa adanya energy dalam jumlah besar yang berasal dari pakan, tidak mungkin sejumlah besar organisme dapat bertahan hidup (Nybakken ,1988 :138)

Di laut dalam terdapat berbagai jenis sumber makanan antara lain :

1. Sumber makanan yang langsung dapat dimanfaatkan sebagai makanan    a. bermacam organisme laut dalam yang menghabiskan masa awal hidupnya atau stadium
        larvanya di zona fotik untuk kemudian bermigrasi di laut dalam dimana ia kan menjadi mangsa
        para predator
    b. mamalia bahari dan ikan mati yang tenggelam ke laut dalam dan sampai disana sebelum
        dimakan seluruhnya oleh organisme – organisme penghuni zona – zona perairan di atas laut
        dalam

2. Sumber makanan yang tidak bisa dimanfaatkan secara langsung ( baru bisa dimanfaatkan setelah
    diuraikan oleh bakteri antara lain : sisa – sisa tubuh hewan dan tumbuhan ynag tidak tercernakan
    (kitin, kayu, selulosa).

3. Sumber makanan yang potensia, Ialah bahan – bahan organik yang larut atau berbentuk koloid dan
    bahan – bahan yang berasal dari plankton dan berbentuk gelatin. Dewasa ini belum diketahui
    pentingnya bahan – bahan ini sebagai makanan.

Di laut dalam juga terdapat makhluk hidup yang tidak bergantung pada material organik terlarut sebagai makanan mereka. Jenis makhluk hidup tersebut hanya ditemukan di sekitar hydrothermal vent. Lubang hidrotermal, misalnya, adalah suatu habitat laut-dalam tempat menyemburnya cairanpanas dari habitat dasar laut. Semua ini ditemukan di pegunungan laut pertengahan tempat lempeng tektonik Bumi bercabang.

Sebagai contoh adalah hubungan simbiotik antara cacing tabung Riftia dengan bakteri kemosintetik. Kemosintesis yang mendukung kehidupan komunitas kompleks tersebut dapat ditemukan di sekitar hydrothermal vent. Komunitas ini adalah satu-satunya komunitas di planet ini yang tidak bergantung pada keberadaan cahaya matahari.

Demikian artikel mengenai karakteristik ekosistem laut dalam, semoga bermanfaat.
Share:

Definition List

Unordered List

Support